Fitnah Tukang Ojek

“Jo, dipanggil Kang Parmin!”

Aku yang sedang menyeruput es teh di warteg Bu Djum nyaris tersedak. Burhan yang baru datang dan menyampaikan berita itu, dengan santai duduk di depanku. Dia memesan nasi rames lalu ngemil gorengan di meja. Dia memang suka ngemil, perutnya sampai seperti orang hamil lima bulan saja.

“Ada apa lagi, Han?” tanyaku sedikit khawatir. Untung sudah selesai makan, kalau tidak, bisa rusak selera makanku.

Burhan mengangkat bahunya tanda tak paham.

“Sepertinya tadi ibu-ibu yang kemarin itu datang lagi,” jawabnya.

“Waduh,” keluhku tak enak hati.

“Sama anaknya kali ini, Jo,” kata Burhan.

“Baiklah, aku kembali ke pangkalan,” pamitku, lalu segera membayar makanan dan keluar dari warteg.

Perasaanku tak enak. Ada apa lagi ini? Seminggu yang lalu aku dipanggil Kang Parmin, Ketua Paguyuban Ojek pangkalan kami, dan dimarahi habis-habisan, dituduh menarik ongkos yang tidak wajar. Apalagi yang jadi penumpangku saat itu adalah anak sekolah, cuaca sedang hujan lebat pula. Aku dianggap tidak manusiawi, mempergunakan kesempatan dalam kesempitan. Hah! Itu fitnah!


Sungguh, itu fitnah.

Aku masih ingat betul kejadian yang sebenarnya.

Siang itu hujan bagai dicurahkan dari ember raksasa para dewa. Sangat deras dan disertai angin pula. Aku dan beberapa teman sesama tukang ojek pangkalan sedang mangkal di pos. Dalam hujan sederas itu, harapan kami adalah semoga tidak ada orang yang membutuhkan jasa kami.

Bukannya kami tak butuh uang. Namun, hujan yang sangat deras membuat kami harus berhitung lagi. Resiko kehujanan dan kedinginan adalah masuk angin, lalu besoknya libur ngojek. Sayang, bukan? Lebih baik kalau ketika hujan tidak dapat penumpang, tapi besoknya tetap sehat dan bisa ngojek.

Namun, kemudian sebuah truk tentara penuh anak pramuka berhenti di tepi jalan dekat pangkalan. Seorang remaja berpakaian pramuka, menggendong tas punggung yang tampak kelebihan muatan, turun dan berlari-lari menuju pangkalan. Rok panjang sedikit menghambat larinya.

“Pak, minta tolong saya diantar pulang, ya,” katanya sopan kepadaku, yang kebetulan berada paling dekat dengan posisinya berdiri.

Melihatnya basah kuyup begitu, aku jadi tak tega. Dia tampak kedinginan. Aku jadi ingat anakku, yang kira-kira sebaya dengan bocah perempuan ini.

Maka, aku pun setuju untuk mengantarnya pulang. Tidak jauh, hanya di dalam perumahan depan pangkalan ojek ini. Kami memang melayani para penghuni perumahan.

Sesampainya di depan rumah, anak itu turun dan langsung masuk. Aku menunggunya beberapa saat. Karena dia baru pulang kemah, kupikir mungkin kehabisan uang, jadi harus minta dulu pada orang di rumah.

Beberapa lama menunggu, bocah itu tak keluar juga. Baiklah, aku memutuskan untuk kembali ke pangkalan saja, daripada kedinginan terlalu lama. Aku percaya anak itu akan mengantarkan ongkos ojek ke pangkalan keesokan harinya, karena dia anak baik dan dari keluarga baik-baik pula. Aku sudah beberapa kali mengantarnya dan kami sudah saling kenal wajah.

Namun, bocah itu tak muncul juga.

Justru yang terjadi dua hari kemudian adalah, aku dipanggil Ketua Paguyuban.

“Tadi ada ibu-ibu nyari kamu. Ngasih ongkos ojek anaknya. Sepuluh ribu.” Suara Kang Parmin yang datar dan dingin terdengar menakutkan di telingaku.

Aku terkejut. Sepuluh ribu? Itu tiga kali lipat lebih dari ongkos wajar. Dari pangkalan masuk perumahan sangat dekat, ongkosnya hanya tiga ribu.

“Kubilang ongkos ojek nggak segitu. Tapi dia bilang anaknya sendiri yang minta sepuluh ribu buat bayar ojek.” Masih dengan suara datar, Kang Parmin melanjutkan.

Oh, tidak. Bocah itu anak baik-baik, aku tak percaya dia bisa setega itu memfitnahku.

“Kamu keterlaluan, Paijo!” hardik Kang Parmin keras.

Aku menghela napas, menguatkan hati. Selama ini tak seorang pun tukang ojek pangkalan kami berani mendebat Kang Parmin, karena dia memang sudah sangat baik dan bijaksana dalam merangkul dan mengayomi. Usianya pun sudah lebih dari setengah abad, paling tua di antara kami semua.

Namun, kali ini aku terpaksa menyanggahnya.

“Tidak, Kang, aku tidak minta ongkos sebanyak itu …,” suaraku sedikit bergetar.

“Lalu berapa?” sahut Kang Parmin tanpa ampun. “Ini buktinya, ibunya memberikan sepuluh ribu!”

Aku menatap uang sepuluh ribu yang disodorkan Kang Parmin.

“Nih, ambil!”

Aku bergeming. Tidak, aku tidak mau mengambilnya. Ini akan membawa malapetaka.

Aku menggelengkan kepala. “Maaf, Kang, aku tidak mau.”

“Kenapa? Karena ketahuan olehku?” cecar Kang Parmin pedas. “Kau tahu, aku tak bisa menerima perbuatanmu. Dalam kondisi hujan deras, orang butuh pertolongan, bukan pemerasan!”

Aku terkesiap. “Kang, aku tidak ….”

“Kalau kamu tidak melakukannya, buktikan! Selesaikan masalahmu dengan caramu! Aku menunggu.”


Geram, aku pun mendatangi rumah bocah itu. Sayang sekali, si bocah kurang ajar itu belum pulang sekolah, ibunya pun masih kerja. Untunglah ada bapaknya di rumah, jadi aku bisa menyampaikan kekesalanku pada si bapak.

“Oh, begitu, ya?” komentar si bapak di akhir ceritaku. “Saya mohon maaf, anak saya telah membuat masalah jadi rumit begini. Nanti kalau dia pulang, biar saya suruh dia ke pangkalan lagi.”

Aku pun pamit dan kembali ke pangkalan.

Sekarang, si bocah datang, dengan ibunya pula. Apa lagi yang dikatakannya kali ini?

Dengan rasa marah bercampur penasaran, aku menemui Kang Parmin, yang sedang duduk-duduk dipangkalan bersama beberapa teman.

“Hai, Jo, duduk sini!” panggil Kang Parmin melihatku datang.

Aku menurut, duduk di depannya.

“Tadi bocah itu datang sama ibunya,” kata Kang Parmin memulai. Suaranya tenang, tidak menakutkan seperti minggu lalu. Hatiku sedikit lega.

Aku mengangguk, menunggu kelanjutan ceritanya.

“Ternyata benar, kau tidak minta ongkos sebanyak itu. Aku minta maaf sudah menuduhmu yang tidak-tidak,” lanjutnya.

Aku menghembuskan napas lega. Akhirnya!

“Dia sudah menanyai anaknya, kenapa minta sepuluh ribu. Kau tahu apa jawab anaknya?” lanjut Kang Parmin lagi, sekarang malah berteka-teki.

Aku hanya menggelang. Mana aku tahu!

“Bocah itu bilang, ‘Aku sendiri yang pengen ngasih sepuluh ribu, soalnya kasihan bapak ojeknya, kehujanan, kedinginan.’ Begitu,” pungkas Kang Parmin.

Aku menghembuskan napas, betul-betul lega sekarang. Kang Parmin kembali menyodorkan uang sepuluh ribu dan kali ini kuterima dengan senang hati.

Kutimang-timang uang itu di tangan, sambil tersenyum-senyum sendiri.

“Waah, untung betul nasibmu, Jo, dapat penumpang baik hati gitu,” celetuk Burhan, disambut anggukan kepala semua yang ada di situ.

Astaga, cepat sekali dia makan, tahu-tahu sudah ada di sini lagi. Dasar gembul. Atau dia tidak jadi makan karena penasaran juga? Entahlah.

“Uangnya buat beli gorengan aja, Jo, kita makan rame-rame,” usul teman yang lain lagi.

Aku tersenyum.

“Jangan, kurasa aku tidak akan membelanjakan uang ini,” kataku sambil masih menimang-nimang uang di tangan. “Sayang rasanya.”

“Lalu mau kauapakan uang itu?” tanya Kang Parmin, terdengar heran. Teman-teman ikut menggumamkan pertanyaan serupa.

“Mungkin akan kupigura dan pajang saja di dinding rumah,” jawabku santai.

“Gila, buat apa?” celetuk seorang teman lagi.

“Yaah, sebagai kenang-kenangan, bahwa ternyata ada anak yang begitu menghargai jasa tukang ojek.”

“Huuu!” serentak mereka berseru.

Aku tergelak. Puas mengerjai mereka.


Guru Privat (part 8)

“Kata ayah, kamu jatuh cinta sama ayah temanmu?”

Pertanyaan bunda yang tanpa pendahuluan itu mengagetkanku. Hal ini tak terpikirkan sebelumnya. Bodohnya aku! Bukankah ayah dan bunda itu suami-istri? Tentu saja kalau ada masalah dibicarakan berdua.
Lalu, aku harus menjawab apa sekarang?

“Ayolah, Nak, cerita sama bunda,” bujuk bunda melihatku hanya terdiam.

Aku hanya menunduk, resah. Mungkin karena bingung harus berkata apa lagi, akhirnya bunda hanya memelukku dalam diam.

Kapan terakhir kali aku dipeluk bunda begini? Rasanya sudah lama sekali. Sejak bunda pulang dari dinas luar kota bulan lalu, rasanya aku lebih banyak menyendiri di kamar. Bunda ada atau tidak tak terlalu kuhiraukan.

“Lho, katanya mau jalan-jalan?”

Suara ayah membuyarkan lamunanku. Bunda melepaskan pelukan. Rupanya karena menunggu terlalu lama, ayah jadi menyusul ke kamar.

“Siapa yang mau jalan-jalan?” tanya bunda.

Syukurlah, bunda tidak melanjutkan pertanyaan pertama tadi. Lega rasa hatiku.

“Aku dan ayah ingin jalan-jalan sama bunda,” jawabku segera, “mumpung malam Minggu. Mau ya, Bunda?”

Bunda memandangku. “Ke mana?”

“Jangan ke mall, bosan,” jawabku. “Jangan nonton juga, lagi nggak mood.”

Ayah dan bunda saling pandang. Lalu, keduanya mengalihkan pandangan padaku.

“Jadi, makan aja?” tawar bunda.

Aku menimbang-nimbang sejenak. “Jalan-jalan di taman aja yuk, sekali-sekali. Sudah lama banget nggak main ke taman.”

“Oke!” sahut ayah dan bunda bersamaan, lalu tertawa bersama juga. Kompak sekali.


Senang sekali rasanya bisa berjalan-jalan bersama-sama ayah dan bunda lagi. Sepanjang perjalanan ke taman, tak henti-henti kami bercerita dan bercanda tentang apa saja.
Sampai di taman, kami berjalan bersisian masih sambil bercanda. Ayah memelukku seperti biasanya. Ah, betapa aku kangen suasana seperti ini.

Tiba-tiba, dari sekian banyak orang yang lalu-lalang di taman, ada satu yang menarik perhatianku. Seorang perempuan muda duduk sendirian di bangku sudut taman.
Semakin lama kami melangkah, kian dekat pada perempuan itu. Aku tercekat begitu mengenalinya.

Itu Kak Dena!

Demi tuyul dekil! Jauh-jauh kami ke sini untuk bersenang-senang, mengapa harus bertemu dengannya? Moodku langsung rusak seketika. Ingin aku berteriak memakinya, agar jauh-jauh dari kami. Agar tidak mengganggu ketenangan keluarga kami.

Namun, itu tak mungkin kulakukan.

Aku harus tetap manis padanya. Maka dengan setengah hati, aku melepaskan diri dari pelukan ayah dan setengah berlari menghampirinya.

“Kak Dena!” panggilku. “Kakak kok di sini? Sama siapa?”

“Sendiri,” jawabnya dengan senyum yang seperti dipaksakan. Oh, jadi dia juga sedang bete.

“Dena, apa kabar?” sapa bunda yang ternyata telah menyusulku bersama ayah.

“Baik, Bu,” sahutnya sambil menjabat tangan bunda.

Aku ingin berteriak, melarang bunda menyambut tangannya. Namun, lagi-lagi, itu tak mungkin. Maka, dengan rasa tak rela, kubiarkan keduanya berjabat tangan. Syukurlah hanya sebentar, lalu bunda kembali menggenggam tangan ayah.

Kulihat wajah Kak Dena sedikit berubah melihat hal itu. Haha, tahu rasa dia! Ayah memang milik bunda, ‘kan?

Ayah diam saja, tak menyapa. Tangannya masih bertaut dengan tangan bunda, mesra. Ayah menyapukan pandangan ke sekeliling seolah mencari sesuatu.

“Hei, lihat, ada tukang kebab di sana,” katanya. “Ayo!”

Aku bersyukur, ayah mengajak ke tukang kebab di seberang taman. Kalau bisa sih, lebih jauh lagi lebih baik. Ke mana saja asal jangan ada Kak Dena!


Minggu sore.

Seharusnya aku mulai mempersiapkan apa-apa yang kubutuhkan untuk sekolah besok. Namun, masih malas rasanya. Aku masih ingin bermanja-manja dengan ayah dan bunda.

Denting ponsel menandakan ada pesan masuk. Siapa?

[Airin, maafkan Kak Dena. Kakak harus kembali ke kampung halaman, Airin cari guru lain saja, ya]

Wow! Ini berita paling keren sepanjang sejarah peradaban manusia. Berita paling membahagiakan yang ditunggu-tunggu seluruh umat manusia di dunia.

Oke, aku terlalu lebay. Abaikan.

Demi kesopanan dan adat ketimuran yang adiluhung, –huek– kubalas pesannya.

[Kakak sudah beres urusan kuliahnya?]

[Sudah, tinggal nunggu wisuda]

[OK, selamat ya]

[Airin jaga diri baik-baik. Jaga hubungan baik dengan teman Airin, ya]

Aku tertawa membaca pesannya yang terakhir.

[Tentu. Kakak juga, jaga diri baik-baik]

Itu sindiran, tentu saja. Semoga Kak Dena paham.


Aku ingin merayakan berita gembira ini. Maka, aku pun berniat mengajak ayah dan bunda berjalan-jalan lagi. Sayang sekali ayah sudah telanjur pergi, entah ke mana. Ya sudahlah, aku merayakannya berdua saja dengan bunda.

Kami berjalan-jalan ke mall. Kalau kemarin aku malas ke sana, sekarang tidak. Mall bukan tempat yang menakutkan lagi. Bukankah sudah selesai semua masalah yang menakutkan, dengan perginya Kak Dena?

Namun, ternyata aku salah.

Ketika kami masuk ke pujasera, kulihat ayah sedang duduk berhadapan dengan perempuan lain.

“Ayah!” seruku tak tertahan. Kututup mulut dengan sebelah tangan, demi melihat perempuan itu menoleh.

Itu Kak Dena!

Sungguh, aku kecewa. Sakit hatiku tak tertahan sudah. Bunda ada di sini, menyaksikan semuanya. Jadi, baiklah, tak perlu berpura-pura manis lagi.

Dengan langkah lebar-lebar, aku menghampiri mereka berdua.

“Pembohong!” makiku pada Kak Dena, seraya menjambak rambutnya.


Guru Privat (part 7)

Guru mana yang rela muridnya terjerumus ke dalam hal-hal negatif? Tidak ada. Guru punya tanggung jawab moral untuk mendidik dan membimbing murid menjadi orang yang lurus.

Begitu pula aku. Sekalipun belum secara legal menjadi guru karena belum lulus, tetapi aku telah mempraktikkan ilmu yang kudapat pada murid-murid privatku.

Apa yang terjadi pada Airin, telah menampar nuraniku sebagai guru. Sebagai pendidik, seharusnya aku bisa memberi contoh yang benar padanya. Namun, apa kenyataannya?

Aku tak mampu bicara karena diriku sendiri bersalah. Ibarat pepatah, menepuk air di dulang terpercik muka sendiri. Begitulah aku kalau harus membicarakan masalah yang dihadapi Airin.

Lalu, apa yang harus kulakukan?

Berhari-hari aku tersiksa oleh perang batin. Satu sisi hati mengatakan agar menghentikan semua kebodohan ini. Namun, sisi lain hati menjerit-jerit, tak rela melepaskan Hendra. Lelaki tampan berwibawa itu telah menjeratku dengan pesonanya.

Tengah aku sibuk dengan pikiran sendiri, ponsel di meja rias berdenting pertanda ada pesan masuk.

[Dena]

Itu Hendra. Hampir tengah malam, mengapa belum tidur juga dia?

Aku menimbang-nimbang, antara menjawab atau tidak.

[Sudah tidur, Dena?]

Aku menghela napas. Andai bisa tidur, dengan senang hati akan kunikmati malam ini dengan bermimpi indah.

Kubiarkan pesan Hendra tak berbalas.


Malam Minggu.

Sebenarnya, malam Minggu atau bukan, bagiku sama saja. Kegiatanku hanya berkutat di kamar kos saja. Namun, kali ini aku ingin keluar mencari suasana baru, setelah berhari-hari pikiran terasa berat. Apa lagi kalau bukan masalah Airin.

Maka, di sinilah aku sekarang. Duduk di bangku salah satu sudut taman kota, menyaksikan banyak keceriaan.

Ada pasangan remaja berjalan bersisian di pinggir taman sambil mengobrol asyik. Sekelompok pemuda duduk di rerumputan, bermain gitar sambil menyanyikan lagu-lagu populer. Ada pula keluarga kecil dengan anak-anak yang lucu berlarian. Beberapa di antaranya asyik menikmati jajanan yang ada di sekitar taman.

Betapa bahagianya mereka semua. Terlihat canda tawa mereka begitu bebas dan lepas.

Sebersit rasa iri terbit di hati. Aku ingin seperti mereka, memiliki orang yang peduli, menjadi tempat berbagi segala cerita, suka dan duka.

Lalu, pandanganku tertumbuk pada tiga orang yang baru saja datang di kejauhan. Seorang lelaki gagah dan dua orang perempuan bertubuh mungil bersamanya. Lelaki itu memeluk seorang di sisi kanan dan menggandeng tangan yang lain di sisi kiri.

Tunggu, sepertinya mereka tak asing. Makin dekat, akhirnya aku mengenali mereka. Lelaki gagah itu adalah Hendra, memeluk Airin dan menggandeng tangan Diana. Sempurna!

Sementara mereka asyik berjalan sambil bercengkerama, aku menatap sambil mematung di tempatku. Hingga mereka makin dekat dan akhirnya mengenaliku.

“Kak Dena!” Airin berseru dan berlari menghampiri. “Kakak kok di sini? Sama siapa?”

Hendra dan Diana menyusul.

“Sendiri,” jawabku dengan senyum terpaksa. Aku masih belum lupa pertanyaannya yang terasa menerorku beberapa hari ini.

“Dena, apa kabar?” sapa Diana dengan senyum tulus dan pandangan teduh.

“Baik, Bu,” sahutku dengan kikuk. Sebersit rasa bersalah padanya menyelinap di hati.

Hendra tak bersuara. Tangannya masih bertaut dengan tangan Diana, mesra. Dia mengalihkan pandangan ke sekeliling, seolah ingin memandang apa saja selain aku. Aku menelan ludah, lidah terasa kelu.

“Hei, lihat, ada tukang kebab di sana,” katanya entah pada siapa. “Ayo!”

Lalu, mereka berlalu ke arah tukang kebab di seberang taman setelah mengangguk dan tersenyum sambil melambaikan tangan sebagai tanda berpamitan padaku.

Sesaat pandanganku terasa kabur. Melihat mereka bertiga bersama-sama terasa menyesakkan dada. Mereka keluarga bahagia, seharusnya tanpa cela, andai tak ada aku di antara mereka.

Butir air bening jatuh di pipi dan pandanganku menjadi jelas lagi.

Seharusnya aku pergi saja ….


[Maaf, aku harus pergi. Jaga Airin baik-baik, dia sedang ada masalah]

Kukirimkan pesan itu keesokan harinya pada Hendra tanpa mengharapkan balasan. Biarlah, aku harus mengundurkan diri, sebelum melangkah lebih jauh dan tak bisa kembali.

[Airin, maafkan Kak Dena. Kakak harus kembali ke kampung halaman, Airin cari guru lain saja, ya]

Pesan berikutnya kukirimkan pada Airin. Tak berapa lama datang pesan balasan.

[Kakak sudah beres urusan kuliahnya?]

[Sudah, tinggal nunggu wisuda]

[OK, selamat ya]

[Airin jaga diri baik-baik. Jaga hubungan baik dengan teman Airin, ya]

Entah mengapa aku tak tahan untuk tidak mengirimkan pesan itu pada Airin. Mungkin karena rasa sayangku padanya, entahlah. Dia anak yang manis, pasti setiap orang akan mudah merasa sayang padanya.

[Tentu. Kakak juga, jaga diri baik-baik]

Aku tersenyum pahit membaca pesan Airin yang terakhir. Kakak pergi justru untuk menjaga diri, Airin, agar tidak terjerumus makin jauh dalam hubungan tak semestinya dengan ayahmu. Semoga dengan kepergian Kakak, dia akan kembali seutuhnya menjadi milik kalian.

Kututup aplikasi pesan. Sudah sore, sebaiknya aku mandi.

Namun, denting ponsel menghentikan langkahku ke kamar mandi. Ada pesan masuk lagi. Kuraih ponsel dan kubuka pesan.

[Aku perlu bicara. Kau tahu masalah Airin. Temui aku di tempat kemarin]

Aku menghela napas. Baiklah, sekali ini saja. Demi Airin, aku akan menemuinya sekali lagi.


“Hmm, jadi begitu?” komentar Hendra saat aku selesai menceritakan masalah Airin beberapa waktu lalu.

Aku tak menjawab, hanya menunduk pura-pura sibuk mengaduk es jerukku. Kami bertemu di pujasera mall yang bulan lalu kami kunjungi bersama.

Beberapa saat sepi, kami sama-sama diam. Aku tak tahu apa lagi yang harus kukatakan. Hingga tiba-tiba kudengar pekik suara tertahan di belakangku.

“Ayah!”

Kulihat Hendra menjadi gugup. Dia melihat ke belakangku, lalu bangkit berdiri.

Heran, aku pun menoleh.

Di sana, berjarak lima meja dariku, berdiri Airin dan Diana, dengan tangan menutup mulut dan mata melebar.

Matilah aku!


Masker

Minggu sore ini, aku sendirian di rumah. Ibu sedang arisan RT dan ayah badminton di lapangan kelurahan sejak setelah asar tadi. Rumah sepi dan tak ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Daripada bengong, lebih baik aku merawat diri. Rasanya kulit wajah sudah butuh perhatian. Baiklah, sore ini aku akan maskeran.

Di kamar, kuoleskan masker bengkoang ke seluruh wajah, kecuali area sekitar mata dan mulut. Lalu, sambil menunggu masker kering, aku duduk selonjoran di sofa ruang tamu sambil membaca novel. Tak lupa sebelumnya mengunci pintu depan, kebiasaanku kalau sedang sendirian di rumah. Ahai, sungguh sempurna. Serasa di surga nikmatnya.

Tengah asyik aku membaca, dari arah dapur terdengar suara seperti panci yang dibuka lalu ditutup lagi dengan keras. Oh, mungkin Mbah Minah sudah datang waktu aku masih di kamar tadi. Nenek bercucu empat itu memang biasa pulang hari Sabtu sore, lalu datang lagi Minggu sorenya. Rumahnya tidak jauh, jadi bisa pulang seminggu sekali.

“Mbak Nina, malam ini mau dimasakin apa?” teriak Mbah Minah dari arah dapur.

“Apa aja boleh!” sahutku tanpa pikir panjang, balas berteriak.

Terdengar suara-suara peralatan dapur yang dipakai untuk meracik bahan masakan. Juga suara rengeng-rengeng Mbah Minah menyanyikan lagu Jawa klasik.

Hei, sejak kapan Mbah Minah bisa nembang? Baru kali ini aku mendengarnya, padahal dia sudah di sini sejak aku masih kecil. Sekarang aku SMA, berarti lebih kurang sudah sepuluh tahun.

Aku makin asyik, membaca novel ditemani tembang Jawa yang menenangkan hati. Masker di wajah sudah kering, tapi aku tak juga beranjak untuk membersihkannya. Nanti saja, cerita yang kubaca sedang seru-serunya.

“Mbak Nina, mandi dulu, bentar lagi maghrib, lho!” teriak Mbah Minah lagi dari dapur.

Hah? Benar juga, sudah hampir gelap ternyata. Aku sampai tak memperhatikan, yang penting tulisan masih terbaca, lanjut saja.

“Iya, Mbah!” sahutku tak kalah keras.

Dengan sedikit malas aku bangkit dan bermaksud ke kamar mandi. Sebentar lagi pasti ayah dan ibu pulang, bisa diomeli aku kalau belum mandi juga. Saat itulah terdengar bel berbunyi. Nah, benar ‘kan, itu pasti ayah atau ibu yang pulang. Terima kasih, Mbah Minah. Segera kubuka pintu, dan ….

“Astaghfirullahal ‘adhim!” seruku keras. Tubuhku sampai terlonjak saking kagetnya.

“Setaaan!” jerit orang yang berdiri di depan pintu.

Lah? Aku yang sudah terkejut jadi makin kaget. Perempuan berkain dan berkebaya khas perempuan desa itu jatuh berlutut lalu bersimpuh di depanku. Mulutnya komat-kamit melafalkan ayat kursi. Tubuhnya gemetar dan wajahnya berkerut ketakutan.

“Mbah!” panggilku sambil mencengkeram lengannya. Memastikan dia bisa dipegang. Kalau sampai tanganku hanya mengenai tempat kosong, berarti ….

Ya Tuhan, ini benar-benar Mbah Minah. Dia duduk bersimpuh, makin gemetar, masih membaca ayat-ayat pengusir setan. Jujur, melihatnya seperti itu, aku jadi khawatir jangan-jangan dia akan pingsan.

“Mbah ngapain di sini? Bukannya Mbah sedang masak?” tanyaku tak sabar.

“A-ampuuun, pergilah, Setan … jangan ganggu ….”

Kagetku berubah jadi kesal sekarang. Tadi kupikir dia yang setan, karena dari dapur tiba-tiba sudah ada di depan pintu tanpa melewati ruang tamu. Padahal pintu untuk keluar-masuk rumah ini hanya satu, dan sudah kukunci pula.

“Mbah!” sentakku, mulai tak sabar. “Ini aku! Nina!”

Mbah Minah terdiam. Matanya melebar dan mulut ternganga. Mungkin kaget mendengar suaraku, yang kalau dalam kondisi normal bisa dibilang kurang ajar. Lalu telunjuknya yang gemetar menuding tepat ke wajahku. Nah, sekarang gantian dia yang tidak sopan.

“Ii … ituuu … wajahnya ….”

Kuraba wajah. Ya Tuhan! Pantas saja Mbah Minah ketakutan, rupanya masker putih ini belum dicuci. Mana cuaca sudah mulai gelap, pasti horor sekali penampakanku.

“Ini masker, Mbok,” kataku mencoba menenangkannya.

Syukurlah dia tidak histeris lagi. Kubantu dia berdiri, lalu bersama-sama kami masuk rumah. Mbah Minah menyalakan lampu, aku menutup pintu.

“Mbah dari mana?” tanyaku penasaran. “Kok aku nggak lihat keluarnya?”

Mbah Minah memandangku dengan tatapan aneh, mungkin heran.

“Mbah ‘kan baru saja datang, Mbak? Mbah pulang kemarin sore, ‘kan? Masa lupa?”

Aku tertegun.

Kalau Mbah Minah baru saja datang, lalu siapa yang memasak sambil nembang Jawa tadi di dapur?


Guru Privat (part 6)

Setelah kemarin dapat ide dari pertanyaan ayah tentang jatuh cinta, hari ini aku berencana untuk mempraktikkannya. Begitu Kak Dena datang, aku langsung bersiap-siap. Menunggu momen yang tepat untuk memancingnya.

Karena terlalu asyik dengan rencana itu, aku jadi tak bisa berkonsentrasi mendengarkan penjelasannya. Kubiarkan Kak Dena bicara sendiri seperti pertemuan lalu.

“Bagaimana, ada yang kurang dipahami?” tanya Kak Dena.

Syukurlah, akhirnya selesai juga entah apa itu yang dia bicarakan. Apa coba yang kurang dipahami, aku saja tidak mendengarkan sama sekali.

“Atau Airin coba latihan soal dulu, ya?” usulnya. “Biar tahu mana yang perlu dijelaskan lagi.”

Aku menggeleng. Ini saatnya praktik. Teoriku mengatakan, orang akan tersentil kalau kita membicarakan hal yang sama dengan masalah yang sedang dihadapinya.

“Ada masalah?” tanyanya. “Mau cerita sama Kakak?”

Aku memandang Kak Dena tanpa bersuara. Menunggu reaksinya. Semoga aktingku cukup bagus dan meyakinkan.

“Ayo, cerita aja,” bujuk Kak Dena. “Siapa tahu Kakak bisa kasih saran.”

Yes, akhirnya! Momen yang tepat datang juga.

“Mmm … tapi Kakak janji jangan marah, ya?”

Kak Dena mengangguk cepat. Saatnya beraksi, Airin. Perhatikan dan tata kalimatmu baik-baik, jangan sampai dia tahu kau sedang memancingnya.

“Mmm … Airin mau nanya, Kakak dulu jatuh cinta pertama kali umur berapa?”

Diam. Apakah pertanyaan itu terlalu vulgar?

“Kalau Kakak nggak mau cerita nggak pa-pa, kok,” cetusku, berniat mengganti strategi, kalau yang pertama tidak berhasil.

“Umur lima belas,” jawabnya cepat.

Aku tersenyum. Berhasil! “Ternyata kita hampir sama,” komentarku.

“Airin jatuh cinta, ya?” tebaknya.

Yes, yes, yes! Pertanyaan itulah yang kutunggu. Segera aku mengangguk. Ayolah, Kak, bertanyalah lagi. Semakin banyak semakin baik.

“Sama siapa? Teman sekolah?”

Aku menggeleng. “Kakak bisa kasih saran? Airin sedang bingung.”

Gadis berambut lurus sebahu itu terlihat menimbang-nimbang. Namun, akhirnya mengangguk juga. Sesuai harapan.

“Dia bukan teman sekolah,” tuturku memulai, “tapi ayah teman sekolah Airin.”

Nah, kena dia! Matanya sedikit melebar mendengar penuturanku. Pasti kaget. Aku ingat, ayah kemarin juga begitu. Lengannya yang memelukku langsung kaku. Bahkan kemudian ayah melepaskan pelukannya.

“Airin harus gimana, Kak?” pancingku lagi.

Diam beberapa saat. Pasti bingung dia.

“Mmm … memangnya, apa yang Airin suka dari dia?” tanyanya.

“Nggak tahu, suka aja,” jawabku sembarangan.

Kak Dena menghela napas. “Teman Airin tahu?”

Aku menggeleng. “Airin nggak mengkhianati teman, kan, Kak?”

Nah, sudah kukeluarkan jurus sakti itu. Tepat mengenai sasaran. Lihat, gadis yang biasanya tenang dan murah senyum itu tiba-tiba gugup dan bibirnya terkatup kaku. Sebelah tangan menyeka dahi. Haha, pasti keringat dinginnya keluar.

“Ehm, Airin … kita lanjutkan besok lagi aja, ya? Kakak harus pulang,” elaknya, tanpa membalas serangan pertamaku.

Kulanjutkan saja dengan jurus kedua yang tak kalah dahsyat.

“Nggak pa-pa ya, Kak, kalau suka suami orang?” Kupasang wajah polos agar terlihat semelas mungkin.

Lihat, dia makin gugup. Menyeka dahinya sekali lagi. Aha, pasti keringat dingin menetes makin deras. Tanpa bicara lagi, Kak Dena bangkit dan meraih tas yang aku yakin dibelikan ayah, lalu melangkah lebar-lebar keluar rumah.

Yes! Semoga saja semalaman ini Kak Dena tak bisa tidur, memikirkan kata-kataku. Biar tahu rasa. Eh, bukan begitu maksudku. Yang benar adalah, semoga dia sadar bahwa apa yang dia lakukan itu jahat dan menyakiti hati orang lain.


Ini malam Minggu. Seharusnya ayah dan bunda di rumah. Semoga saja benar, jadi aku bisa mengajak mereka berjalan-jalan untuk mengganti rencana yang batal bulan lalu.

Pelan-pelan kubuka pintu kamar dan menuju ruang duduk. Ayah duduk di sofa sendirian, dengan televisi menyala di depannya. Mungkin mendengar suara pintu terbuka, ayah menoleh. Senyumnya samar menyambutku.

“Hai, Cantik,” sapa ayah.

Aku tersenyum menghampiri ayah lalu duduk di sampingnya.

“Bunda mana, Yah?” tanyaku.

“Ada di kamar,” jawab ayah, “mau jalan-jalan sama ayah-bunda?”

Wow! Ternyata kami punya pikiran yang sama. Apakah ayah dan anak memang begitu? Atau ini hanya kebetulan saja?

Aku segera mengangguk. “Aku panggil bunda, ya.”

Kuketuk pintu kamar ayah-bunda. Setelah bunda mempersilakan, aku membuka pintu dan dengan hati-hati melangkah masuk. Bunda sedang berbaring menelungkup di tempat tidur. Kudekati, ternyata wajahnya nampak tidak seperti biasa. Ada apa?

“Airin … syukurlah kamu datang, Nak,” cetus bunda, lalu segera bangkit dan duduk.

“Ya, Bunda, ada apa?” tanyaku tak paham.

Bunda memegang kedua pundakku, mendudukkan di sisinya. Lalu, dengan wajah serius, bunda menatapku lekat-lekat.

“Ayah bilang, kamu jatuh cinta sama ayah temanmu?”

O, oh! Mati aku.

Aku harus menjawab apa? Hal ini tak pernah terpikirkan sebelumnya. Kalau kujawab iya, bunda pasti sedih. Kalau kujawab tidak, pasti muncul pertanyaan baru lagi, dan akhirnya bunda jadi tahu mengapa aku berbohong pada ayah.

Padahal, aku tidak ingin bunda tahu. Aku tak mau bunda sakit hati.

Lalu, apa yang harus kukatakan sekarang?


Bukan Cinta Buta

Bergaun hijau muda, motif abstrak. Tinggi seratus tujuh puluh sentimeter. Berat lima puluh koma tiga kilogram. Warna rambut coklat. Warna mata hijau. Oh, jadi gaunnya sesuai warna matanya. Cantik. Ya, itu gadis cantik yang baru lewat di sampingku dan kini duduk dua meter di depanku.

Beberapa saat berlalu, aku menangkap gerakan-gerakan kecil dengan frekuensi cukup tinggi. Di bawah meja, kakinya bergoyang-goyang hampir tanpa henti. Di meja, tangannya berkali-kali berpindah dari kanan ke kiri, ke atas, kembali ke meja lagi. Apakah gadis cantik itu sedang gelisah hingga tak bisa diam?

Aku meneguk minuman dingin di gelas yang kupegang. Segar. Seketika konsentrasi meningkat. Ya, yang kuminum ini memang nutrisi khusus untuk memulihkan sel-sel otak dan tubuh yang lelah.

“Hai, Ruben,” sebuah tepukan di pundak membuatku menoleh. “Maaf, terlambat sedikit. Parkir penuh, aku harus menunggu beberapa waktu untuk bisa mendarat.”

Aku mengangguk. Biasalah itu. Sekarang ini hampir setiap orang dewasa punya flying car sendiri, tapi masalahnya adalah tempat parkir jadi selalu penuh.

“Tak masalah, Nora,” sahutku malas.

Aku justru berharap dia tak jadi datang saja, setelah mendeteksi keberadaan si cantik bergaun hijau motif abstrak. Sayang sekali harapan tak terkabul, gadis bawel itu sekarang sudah duduk di depanku.

“Mama menanyakan kapan kau akan melamarku,” tutur Nora to the point.

Aku menghela napas. Belum, belum saatnya. Maksudku, belum ada niat itu. Apa lagi yang harus kukatakan sebagai alasan kali ini?

Sejujurnya, Nora cantik. Suka berpakaian warna terang. Tinggi seratus tujuh puluh tiga sentimeter. Berat lima puluh koma lima kilogram. Warna rambut hitam. Warna mata coklat tua.

Namun, ada hal yang membuatku tidak juga berniat untuk menikahinya. Dia manja. Juga egois. Tertarik karena tahu aku pewaris tunggal Wiriadinata, seorang pengusaha sukses di kota kami. Dengan apa yang papa miliki, aku bisa tampil tak jauh berbeda dari pemuda-pemuda keren penggemar Nora.

Setidaknya, itulah kesan yang kudapat. Dulu dia sama sekali tak peduli, padahal kami kuliah di tempat yang sama, jurusan yang sama pula. Setelah papa mengajakku menghadiri suatu acara dan bertemu Nora juga di sana, barulah gadis itu mulai menunjukkan perhatian. Siapa sih yang tidak kenal papa di kota ini?

“Ruben?” panggil Nora lagi.

Aku masih tak berminat menanggapinya.

“Kalau kau tak juga memberi kepastian, kita putus saja!”

Eh? Itu ancaman? Mungkin maksudnya begitu. Namun, di telingaku terdengar berbeda. Itu berita gembira.

“Maaf, Nora,” kataku tenang, “aku belum berniat untuk menikah.”

Nora bangkit berdiri, tangannya bergerak terulur ke samping kiri. Lalu seseorang datang dengan cepat. Berdiri di sampingnya.

Laki-laki. Berpakaian warna abu-abu tua. Tinggi seratus delapan puluh sentimeter. Berat tujuh puluh koma delapan kilogram. Warna rambut pirang. Warna mata biru.

“Ruben, kenalkan ini Leandro Sanchez, mahasiswa papa dari Spanyol.”

Laki-laki itu mengulurkan tangan ke depan. “Leandro Sanchez.”

Aku berdiri menyambutnya. “Ruben Wiriadinata.”

Nora dan Leandro membuat gerakan-gerakan kecil entah apa. Tak terdengar suara.

Aku duduk kembali, menikmati sisa minuman yang tinggal setengah.

“Baiklah, Ruben, tak perlu banyak basa-basi,” kata Nora kemudian. “Aku akan menikah dengan Leandro. Dia lebih segalanya darimu. Dan tidak buta.”

Deg!

Cukup sudah. Perempuan ini sungguh keterlaluan. Darahku serasa mendidih, amarah memuncak sampai di ubun-ubun. Pelipisku sampai berdenyut-denyut. Dada turun naik mencoba menormalkan napas yang mulai memburu.

Untunglah sebelum aku melontarkan caci-maki yang pasti akan memerahkan telinga, dia sudah pergi dengan si Leandro itu.

Memang benar, kedua mataku buta. Alat bantu berupa kacamata ultrasonik yang dipesan papa secara khusus membantuku mengenali benda-benda di sekeliling, tapi tetap saja berbeda rasanya.

Gelombang ultrasonik pada kacamata ini membantu mengenali ukuran dan posisi benda-benda. Selain itu ada sensor warna yang menggunakan teknologi hasil pengembangan TCS3200 dan Arduino Nano. Juga dilengkapi sensor panas hasil pengembangan Thermal Imaging.

Dengan alat ini aku bisa mendeteksi banyak benda di sekeliling, tapi bukan berarti bisa melihat.

Melihat dengan mata sehat jelas lebih mudah, lebih indah, lebih nikmat. Aku kehilangan semua itu dalam suatu kecelakaan hebat beberapa tahun lalu, saat seorang pemabuk menabrak flying car-ku tanpa ampun.

Namun, aku tetap bersyukur. Setidaknya, hatiku tidak ikut buta. Tidak tertipu saat si matre Nora berpura-pura mencintaiku.


Guru Privat (part 5)

Airin memang ajaib. Setelah pekan lalu meninggalkanku begitu saja di ruang tamu, hari ini dia menyambut dengan senyum. Memang tidak seceria sebelumnya, tapi lebih baik daripada pertemuan lalu.

Namun, konsentrasi belajarnya masih terganggu. Entah apa yang dipikirkannya, tapi jelas sekali dia tidak memperhatikan penjelasanku. Bekali-kali gadis berambut ikal sebahu itu melirikku, menunduk, melirik lagi, menunduk lagi.

“Bagaimana, ada yang kurang dipahami?” tanyaku di akhir penjelasan.

Airin memandangku, matanya mengerjap, lalu menunduk lagi. Ada apa sebenarnya?

“Atau Airin coba latihan soal dulu, ya?” tawarku. “Biar tahu mana yang perlu dijelaskan lagi.”

Airin menggeleng. Aku menghela napas, apa maunya bocah ini? Belajar tapi tidak mengerjakan latihan, lalu bagaimana bisa tahu sudah menguasai materi atau belum? Diam-diam aku gemas sendiri.

“Ada masalah?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. “Mau cerita sama Kakak?”

Airin mengangkat wajah lagi. Menatapku dengan sorot mata ragu. Nah, ini juga aneh. Biasanya dia akan dengan lancar bercerita tentang apa saja yang mengganggu pikirannya. Bahkan hal sepele pun dia ceritakan.

“Ayo, cerita aja,” bujukku. “Siapa tahu Kakak bisa kasih saran.”

Airin terlihat seperti sedang menimbang-nimbang.

“Mmm … tapi Kakak janji jangan marah, ya?”

Aku mengangguk cepat. Apa pula masalah yang kira-kira akan membuatku marah?

“Mmm … Airin mau nanya, Kakak dulu jatuh cinta pertama kali umur berapa?”

Hah? Jatuh cinta pertama kali umur berapa? Pertanyaan apa pula itu?

“Kalau Kakak nggak mau cerita nggak pa-pa, kok,” cetus Airin melihatku hanya terdiam.

Aku menatapnya. “Umur lima belas,” jawabku tanpa berpikir lagi.

Airin tersenyum. “Ternyata kita hampir sama.”

“Airin jatuh cinta, ya?” tebakku.

Gadis itu mengangguk. Ah, rupanya itu yang mengganggu konsentrasi belajarnya. Mungkin ini pengalaman pertamanya.

“Sama siapa? Teman sekolah?”

Dia menggeleng. “Kakak bisa kasih saran? Airin sedang bingung.”

Aku memandangnya waspada. Ada masalah apa? Tak urung aku mengangguk juga.

“Dia bukan teman sekolah,” tuturnya memulai, “tapi ayah teman sekolah Airin.”

Hah? Mataku sedikit melebar mendengarnya. Kaget. Masih untung mulut tidak sampai ternganga. Tidak salah dengarkah aku? Anak ingusan ini jatuh cinta pada bapak-bapak? Ayah teman sekolahnya, lagi.

“Airin harus gimana, Kak?” tanyanya, masih memandangku.

Aku mengerjapkan mata, berpikir. Bagaimana caraku menyampaikan agar tidak menyakiti hatinya?

“Mmm … memangnya apa yang Airin suka dari dia?” tanyaku tak yakin.

“Nggak tahu, suka aja,” jawabnya spontan.

Aku menghela napas. “Teman Airin tahu?”

Dia menggeleng. “Airin nggak mengkhianati teman, kan, Kak?”

Hah, mengkhianati teman …? Aku mendadak gugup. Keringat dingin mulai menetes. Mati aku!

“Ehm, Airin … kita lanjutkan besok lagi aja, ya? Kakak harus pulang,” kataku, untuk menghentikan pembicaraan yang membuatku tak nyaman ini.

“Nggak pa-pa ya, Kak, kalau suka suami orang?”

Suami orang? Su-a-mi o-rang …?

Aku makin gugup. Keringat dingin menetes makin deras. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku bangkit dan meraih tas yang dibelikan ayah Airin, lalu melangkah lebar-lebar keluar rumahnya.


Kupandangi gadis di depanku. Cantik. Bertubuh mungil, bermata lebar dan alis lebat alami. Dia gadis yang baik. Bermasa depan cerah, sebentar lagi lulus dan menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Dia bisa menjadi guru hebat.

Dia ingin membahagiakan orang tua, membuat mereka bangga. Namun, apa yang telah dilakukannya? Mengkhianati murid sendiri. Jatuh cinta pada ayah si murid. Diam-diam berkencan di belakang punggung anak-istrinya yang telah dikenal baik.

Kalau lelaki itu benar-benar menikahinya, akan bahagiakah dia? Sanggupkah melihat luka di mata anak-istri yang dikhianati?

Akan banggakah orang tuanya, bila tahu calon menantunya bukan lelaki lajang?

Bagaimana pula kata orang-orang nanti? Dia merebut suami orang. Perebut laki orang. Pelakor! Julukan itukah yang akan disandangnya seumur hidup?

Aku menghela napas. Gadis cantik itu juga. Lewat tatapan mata, kami berkomunikasi tanpa kata. Ya, kami saling memahami, karena gadis itu adalah bayanganku sendiri, yang duduk sambil menatap cermin rias di kamar.

Perlahan aku bangkit dan menuju tempat tidur, merebahkan diri. Malam sudah larut. Sudah saatnya tidur. Namun, bayangan Airin terus menari-nari di benakku. Kata-katanya selalu terngiang di telinga.

“… mengkhianati teman … suka suami orang ….”

Aku ingin menghentikannya, tapi tak bisa.

“Aku nggak mengkhianati teman, kan, Kak?” terngiang lagi pertanyaan itu.

Jangan, Airin. Itu tidak benar. Kau masih terlalu muda, jangan sampai salah langkah.

Bagaimana denganmu, hei, Ibu Guru yang cantik? Bukankah kau sendiri mengkhianati Airin, murid les yang telah memberimu kepercayaan? Bukankah kau harus memberi muridmu contoh yang baik, jauh dari sifat pengkhianat?

Aku gelisah. Perang dalam batinku tak juga berhenti. Menjelang dini hari, barulah aku bisa tertidur.