Si Ganteng

“Siapa dia?” tanya Mas Karjo begitu aku membukakan pintu.

Eh? Aku terkejut dengan pertanyaan tanpa pembukaan itu.

“Siapa?” aku balik bertanya, tak paham siapa yang dia maksud.

Dengan isyarat tangan, aku mempersilakannya duduk. Kemudian ikut duduk juga di depannya, terhalang meja tamu rendah.

“Jangan main-main, Ranti,” tukas Mas Karjo ketus. “Laki-laki ganteng yang baru saja dari sini tadi. Siapa?”

Oh. Aku tersenyum kecil melihat wajahnya tegang, mata bersorot dingin dan bibir terkatup rapat. Dia duduk dengan gestur tubuh kaku. #Kepalanya bahkan tak bergerak sama sekali, menandakan betapa seriusnya dia.

Aha, dia cemburu rupanya. Hatiku jadi berbunga-bunga. Bukankah kata orang, cemburu itu tanda cinta? Ehem.

Lalu aku ingat kejadian yang baru saja berlalu pagi ini.


Hari masih pagi, aku sedang bermalas-malasan di kamar karena ini hari libur. Eh, ndak terlalu malas juga, ding, kan tadi sudah menyapu rumah dan halaman, juga sudah memasak untuk sarapan.

Nanti, sebentar lagi aku akan mencuci pakaian. Ya, dibilang hari libur, tapi pekerjaan tetap saja ada.

Aku baru mau membaca novel romance di komunitas penulis online, ketika terdengar pintu diketuk dan suara orang mengucap salam. Ada tamu rupanya.

Siapa yang bertamu sepagi ini? Bukankah pagi-pagi begini seharusnya orang masih sibuk membereskan rumah, atau bekerja di ladang?

Penasaran, aku pun keluar kamar dan membuka pintu depan.

Aku tertegun. Selama beberapa saat aku hanya memandanginya tanpa berkata apa-apa. Siapa orang ini? Tidak salah alamatkah dia? Masa orang seganteng ini mencariku? Uhuk.

Nuwun sewu, Mbak, saya disuruh juragan ngantar ini,” katanya tanpa kutanya.

Oh. Bukan mencariku, rupanya. Tiwas kege-eran aku.

Dia menunjuk sebuah karung yang tergeletak di dekat kakinya. Bukan karung beras, kami tak pernah beli beras karena hasil panen dari sawah sendiri saja cukup melimpah.

Aku hanya mengangguk dan dengan isyarat tangan memintanya membawa karung itu ke dalam. Dengan segera lelaki bertubuh tinggi langsing itu memanggul karung dan membawanya ke ruang tamu. Hm, enteng sekali kelihatannya. Padahal aku yakin, karung itu pasti berat.

Selesai meletakkan karung, lelaki itu pamit dan pergi begitu saja dari hadapanku, bahkan tanpa menunggu jawabanku. Aku hanya sempat mengangguk sebagai jawaban atas pamitnya.

Busyet, mengapa aku jadi bego begini? Masa iya, hanya melihat orang ganteng saja, langsung tak mampu bersuara? Sejak tadi aku hanya mengangguk, menunjuk, mengangguk lagi. Betul-betul seperti orang bodoh. Hah! Terlalu! Orang ganteng itu ….


“Napa senyum-senyum sendiri?”

Aku tergagap. Eh, ketahuan. Mas Karjo menatapku makin lekat dengan sorot mata dingin. Ampun, ampun.

“Eh, anu, itu …,” gagapku. “Dia ngantar karung itu, ndak ngerti aku, isinya apa.”

Mas Karjo bangkit dan melangkah menuju karung yang kutunjuk. Hanya karung polos tanpa tulisan apa-apa yang menjelaskan isinya.

“Apa ini? Buat kamu?” tanyanya.

“Ndak tahu. Aku ndak beli apa-apa,” jawabku jujur.

“Jangan-jangan bener dia naksir kamu, sampai ngasih barang ini.”

Deg!

Apa-apaan, sih, Mas Karjo ini? Kenal juga ndak, sembarangan saja dia nuduh.

“Siapa namanya? Kenal di mana? Apa kamu ndak ngomong kalau sudah punya calon suami?”

Heleh. Sabar, ini ujian.

Belum sempat aku menjawab pertanyaan Mas Karjo yang bertubi-tubi itu, terdengar suara ketukan di pintu bersamaan dengan suara orang mengucap salam.

Sambil menjawab salam dengan suara pelan, aku membuka pintu. Mendapati siapa yang berdiri di depan pintu, aku terkejut. Mau apa lagi dia?

“Maaf, kata juragan, pesanannya ada yang ketinggalan, belum diantar.”

Lalu tanpa menunggu jawabanku, dia menuju #becak yang terparkir di halaman, mengambil karung yang sama dengan yang dia antarkan tadi pagi. Baru saat itulah aku sadar, ternyata di luar #hujan gerimis.

Tanpa minta ijinku, si ganteng itu langsung memanggul karung lalu meletakkannya di ruang tamu.

“Hei!” seru Mas Karjo padanya. ” Siapa kamu? Apa yang kamu bawa itu?”

Lelaki itu menghadapkan wajah dan seluruh tubuhnya kepada Mas Karjo.

Dengan sedikit membungkukkan badan, dia berkata, “Saya #khadam juragan toko pertanian di ujung jalan itu, Den. Saya mengantar pupuk #guano pesanan bapaknya mbak itu.”

Mas Karjo berdiri dan menghampirinya. “Jangan bohong. Aku kenal semua pegawai toko itu.”

Si khadam membungkukkan badan lagi. “Saya khadam baru, Den. Baru hari ini mulai kerja.”

Mas Karjo mengamatinya lekat-lekat.

“Kenapa ndak bilang sama Ranti kalau itu pupuk pesanan bapaknya?”

Si khadam membungkukkan badan lagi. “Maaf, Den. Apa mbaknya bisa dengar atau ngomong, to?”

Hah? Aku terkejut mendengar pertanyaan itu.

“Apa kamu bilang?” tanyaku dengan suara keras.

Si khadam menciut.

“Maaf, maaf, Mbak,” katanya. “Lha, habisnya dari tadi mbaknya diam saja. Cuma ngangguk, nunjuk, ngangguk, gitu terus.”

Astaga!

Mas Karjo kini ganti menatapku dengan sorot mata aneh. Mati, aku! Kebanggaan dicemburui Mas Karjo #runtuh seketika, gara-gara omongan polos si khadam ganteng itu.

Aseeem!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s