Takhayul

“Mbok, lihat kalungku, ndak?” tanyaku pada simbok yang sedang asyik memberi makan ayam di halaman samping.

Simbok menoleh, tangannya yang sudah siap menebar pakan ayam terhenti di udara, masih tergenggam erat. Ayam-ayam yang telah menunggu tebaran jatah makan pagi jadi berkotek-kotek riuh.

“Kalung afa, Ndhuk?”

Yah, Simbok. Ditanya malah nanya balik. Mana ucapannya lucu, lagi. Masa, sih, nggak sadar kalau anak perawannya yang cantik ini punya kalung hadiah dari calon suami? Oalah, Mbok, Mbok. Perhatian dikit napa?

Aku mendekati perempuan sederhana itu.

“Kalung emas yang ada bandulnya bentuk hati itu, lho, Mbok,” jawabku. “Mbok ndak lihat?”

Simbok mengernyitkan dahi, makin menambah banyak kerutan di wajahnya. Sebelah tangannya menyelipkan anak rambut yang keluar dari sanggulnya. Sanggul sederhana khas perempuan desa.

Afa yang kewarin di wega wafak, ya?” ucap simbok, terdengar makin lucu.

Sebenarnya dia mau bilang, “Apa yang kemarin di meja bapak, ya?”
Namun, susur di mulut mengganjal bibirnya hingga membuatnya tak bisa mengucap dengan baik.

“Iya, Mbok? Coba aku lihat dulu.”

Segera aku masuk rumah dan menuju meja kesayangan bapak. Meja itu kecil saja, hanya berukuran satu meter persegi. Diletakkan di sudut ruang tengah, tempat bapak biasa mendengarkan radio sambil udud tingwe.

Di meja itu ada radio transistor kecil, jam meja, kotak wadah tembakau dan cengkeh, juga kertas sigaret. Oh ya, ada korek gas mungil juga.

Mana kalungku? Waduh! Bisa gawat ini kalau sampai tidak ketemu. Kalung itu diberikan Mas Karjo sebulan yang lalu, bersama cincin dan gelang yang sesuai, saat lamaran. Kalau sampai hilang ….

Oh, tidak.

Aku mulai panik.

Jangan sampai suara burung yang kudengar tengah malam kemarin itu adalah firasat. Aku tak percaya hal-hal semacam itu. Memang orang di kampung ini percaya, kalau ada suara burung tertentu terdengar tengah malam, bakal ada kejadian yang menyedihkan, misalnya kematian.

Silakan saja kalau mau percaya, asal kejadian menyedihkan itu bukan rencana pernikahanku yang batal.

Dengan lesu, aku keluar rumah. Sudah waktunya berangkat ke sekolah. Sebentar lagi bel berbunyi, anak-anak pasti menunggu ibu gurunya yang cantik ini, eh ….

Setelah berpamitan pada simbok, kukayuh sepeda berangkat kerja.

Sampai di tikungan jalan, aku melambatkan laju sepeda. Di sana, di halaman sebuah rumah dekat tikungan, kulihat Mas Karjo sedang berbincang-bincang dengan Marni, kembang desa yang masih belum menentukan pilihan juga kepada siapa akan melabuhkan hatinya.

Aku tercekat. Jarak mereka begitu dekat. Tangan Mas Karjo bahkan memegang wajah Marni. Jangan-jangan ….

Oh, tidak.

Kukayuh sepeda lebih cepat melewati mereka. Tenang, Ranti, tenangkan hatimu. Kau gadis yang kuat, tak kan menangis melihat mereka.

Lalu air mata pun mengalir deras membanjiri pipiku.


Kustandarkan sepeda di halaman rumah yang tampak sepi. Siang-siang begini, simbok dan bapak masih di sawah. Simbok mengantar menu makan siang sekaligus menemani bapak sampai selesai makan.

Baru saja aku melangkahkan kaki masuk rumah, sebuah suara menghentikanku.

“Hai, Ranti, kenapa kamu?”

Aku menoleh. Rupanya Yu Patmi yang menyapa. Tetangga sebelah rumah itu masih kerabat juga, ibunya adalah kakak simbok.

“Ndak pa-pa, Yu,” jawabku lesu.

Yu Patmi mendekat.

“Ndak pa-pa piye, to, wajahmu murung gitu kok ndak pa-pa,” sahutnya, tak percaya.

Ah, masa aku harus mengatakan padanya apa yang kulihat pagi tadi waktu berangkat kerja? Memalukan.

“Ada apa, to, Ndhuk? Mbok bilang sama Yu Pat, siapa tahu mbakyumu ini bisa membantu.”

Aku memandangnya lesu. Sambil menggeleng, aku masuk rumah lalu duduk di kursi setelah meletakkan tas di meja.

“Kalungku hilang, Yu,” kataku lemah. Sudah, cukup itu saja yang kusampaikan. Jangan sampai nanti dia malah kepikiran dan jadi nggak tenang.

“Kalung lamaran itu?” tanyanya kaget, matanya melebar beberapa saat.

Aku mengangguk lesu.

“Wah, harus segera dicari, Ti. Lebih cepat lebih baik. Jangan sampai ….”

“Iya, Yu,” potongku, lemas.

Baru saja aku akan beranjak ke kamar, terdengar suara motor memasuki halaman lalu berhenti. Lalu wajah Mas Karjo nongol di pintu.

“Ranti, apa bapak di rumah?” tanyanya. “Eh, ada Yu Pat. Sudah lama, Yu?”

Mas Karjo masuk dan langsung duduk di depan Yu Patmi.

“Bapak belum pulang,” jawabku, tak jadi masuk ke kamar dan kembali duduk, kali ini di sebelah Yu Patmi.

“Kamu napa, kok lemes gitu?” tanya Mas Karjo padaku.

Aku memandangnya sesaat, lalu menunduk. Tak tahu harus bilang apa. Yu Pat malah berdiri dan pamit pulang. Ah, sial.

“Ada apa, Ranti?” cecar Mas Karjo lagi.

Pelan-pelan aku mengangkat wajah dan menatapnya. Aku harus berani mengatakannya. Harus.

“Kalungku hilang ….”

Mas Karjo tampak terkejut. “Kalung lamaran itu?”

Aku mengangguk. “Dan beberapa malam lalu aku mendengar suara burung tepat tengah malam.”

Mas Karjo merengut. “Apa hubungannya? Kamu mau bilang kalungmu hilang dicuri burung?”

Sekarang aku yang merengut. Bayangan Mas Karjo dan Marni tadi pagi sangat mengganggu pikiranku.

“Kata orang, itu firasat akan ada hal yang menyedihkan,” jawabku.

“Kamu percaya?”

“Tadinya, sih, ndak. Tapi, terus kalungku hilang, dan tadi pagi ….”

“Tadi pagi kenapa?”

“Aku lihat sampeyan sama Marni.”

“Masa gitu aja sedih?”

Aku mendesah kesal. “Sampeyan ada apa sama Marni?”

“Lha? Maksudmu ki opo, to, Ndhuk?”

Air mataku merebak. Hatiku terasa teriris. Teganya kamu, Mas. Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.

“Bilang saja … kalau sampeyan … suka sama Marni, Mas,” kataku terbata-bata.

“Lhadalah, kok malah ora karu-karuan, to,” keluhnya.

Aku tak tahan lagi, kini menangis terisak-isak. Sakit sekali rasa hati, dia masih berpura-pura begini.

Untunglah saat itu simbok dan bapak pulang.

“E, bakal mantu,” sapa bapak akrab. “Lho, ada apa ini? Kok Ranti nangis?”

Aku tak menjawab, Mas Karjolah yang kemudian bercerita panjang lebar mengapa aku menangis.

“Masa bu guru kok percaya takhayul, ya, Pak? Ngisin-isini,” pungkasnya, meledekku. Sialan.

Bukannya marah anaknya diledek, bapak malah tertawa. Aku heran, apa yang lucu?

“Oalaah, Ndhuk, Ndhuk,” ucap bapak, “kalungmu kan bapak temukan gemlethak di pinggir bak mandi kemarin sore, jadi bapak simpan di meja.”

“Sudah aku cari di meja ndak ada, Pak,” kataku takut-takut.

“Sudah kamu buka kotak tembakau bapak?”

“Eh, belum ….”

Bapak tertawa makin keras.

“Sudah, jangan suka suudzon sama calon suami sendiri. Apalagi cuma modal takhayul gitu. Ambil tu kalung sekarang,” nasehat bapak panjang lebar.

“Tapi tadi pagi dia sama Marni ….”

“Marni dientup tawon, Ndhuk, aku bantu dia ngambil _entup_nya. Lagian dia itu kan sepupuku, kamu lupa?”

Oalah! Malunya aku, ketahuan cemburu!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s