Guru Privat (Part 12)

“Tuhan, kembalikan Bunda ….”

Kuusap air mata yang mulai membanjiri pipi. Sungguh, aku takut kalau-kalau sampai Bunda memutuskan untuk meninggalkan kami, karena marah pada Ayah.

“Airin …,” panggil Ayah yang ternyata telah sampai di sampingku. “Ayo masuk, sudah hampir malam.”

Aku berbalik dan masuk tanpa berkata apa-apa. Kubiarkan Ayah mengikuti di belakang. Beberapa kali terdengar suara helaan napas panjang Ayah, tetapi aku tak tertarik untuk menanyai apa yang dirisaukannya.

Aku sendiri sedang risau. Ayah jelas telah tertangkap basah berkencan dengan Mbak Dena. Bunda tak berkata apa-apa tentang hal itu, tetapi nyatanya kini Bunda pergi tanpa pamit.

Ke mana?

Mengapa tak pamit padaku?

Apakah Bunda marah juga padaku karena tak memberitahunya sejak dulu?

Bagaimana dengan Ayah? Tidakkah Bunda bertanya pada Ayah?

Aku menoleh dan melihat Ayah masih mengikuti. Tak jadi masuk kamar, aku berbelok dan duduk di sofa. Seperti yang sudah kuduga, Ayah pun duduk di depanku.

“Ayah,” panggilku pelan. “Apakah Bunda menanyai Ayah tentang kemarin?”

Ayah menggeleng.

“Ayah sudah menjelaskan, kami bertemu karena Ayah ingin menanyakan sesuatu tentang kamu.”

Sesuatu tentang aku?

“Apa itu, Yah? Mengapa Ayah tak bertanya padaku saja?” cecarku.

Ayah menatapku lekat-lekat. Seperti sedang menimbang-nimbang.

“Kamu bilang jatuh cinta pada ayah temanmu,” jawabnya. “Ayah ingin tahu lebih banyak, maka bertanya padanya. Kalian cukup dekat, Ayah pikir kamu bercerita lebih banyak padanya.”

Aku terdiam. Ternyata aku salah strategi. Cerita karangan tentang aku jatuh cinta itu sebenarnya hanya pancingan agar Ayah dan Kak Dena instrospeksi diri. Agar mereka sadar bahwa hal itu menyakiti hati kami, aku dan Bunda.

Nyatanya, hal itu malah dijadikan alasan untuk mereka bertemu lagi. Kacau!

Ternyata orang dewasa itu tidak peka. Huh!

“Ayah yakin hanya sekali itu bertemu Kak Dena?” pancingku.

Ayah memandangku dengan dahi berkerut. Nah, semoga sekarang Ayah mau terbuka dan mengakui kesalahannya.

“Apa maksudmu, Rin?”

Bukannya menjawab, Ayah malah balik bertanya. Ah, menyebalkan!

“Ayah percaya aku jatuh cinta pada ayah temanku sendiri?”

Ayah diam.

“Itu bohong, Yah. Cuma pura-pura. Tapi Ayah sudah langsung melarangku. Ayah menyuruhku melupakan hal itu.”

Dahi Ayah makin berkerut, tapi masih tetap diam.

“Kalau aku nggak boleh, bagaimana dengan Kak Dena? Menurut Ayah, dia boleh jatuh cinta sama ayah temannya? Lalu bagaimana dengan Ayah, boleh jatuh cinta sama gadis lain?”

“Apa maksudmu, Rin?”

Baiklah, aku beberkan saja sekalian, supaya tak usah bertele-tele lagi.

“Aku melihat Ayah dan Kak Dena di mall itu waktu Bunda keluar kota. Padahal Ayah bilang ada urusan pekerjaan. Kak Dena bilang mau revisi skripsi.”

Wajah Ayah berubah-ubah. Pucat, lalu merah, lalu entah apa lagi. Keringat menitik di dahinya.

“Itulah yang memaksaku mengarang cerita itu, Yah. Aku berharap Ayah dan Kak Dena melihat ke dalam diri sendiri.”

Ayah tetap diam. Namun, keringat di dahinya makin banyak.

“Aku nggak mau bilang Bunda, takut menyakiti hatinya. Tapi, Bunda malah melihat sendiri Ayah bersama Kak Dena. Aku benci!”

Kulempar bantal sofa, ke wajah Ayah. Oh, tidak, Ayah menangkapnya lebih dulu.

“Ayah jahat!”

Aku bangkit dan menghambur ke Ayah, siap memukulnya. Namun, gerakanku terhenti. Sepasang tangan memeluk dan menahanku hingga tak bisa menyentuh Ayah.

“Sudah, Sayang.”

Bunda!

Ya Tuhan, syukurlah Bunda telah kembali. Seketika aku berbalik dan memeluknya erat-erat.

“Bunda, jangan pergi lagi … jangan tinggalkan aku!”

Tangisku pecah di bahu Bunda.

“Jangan pergi lagi, Bunda, aku takut ….”

Bunda mengelus kepalaku penuh kasih.

“Bunda nggak ninggalkan kamu, Nak,” sahutnya menenangkanku. “Bunda hanya menemui Mbak Dena.”

Aku terkejut. Kuangkat wajah dari bahu Bunda dan menatapnya penuh tanya.

“Untuk apa, Bunda?”

Bunda tersenyum. “Jangan khawatir, nggak apa-apa. Kami cuma bicara.”

Aku masih menatap Bunda, meminta penjelasan. Namun, Bunda hanya tersenyum dan menyuruhku tidur karena sudah malam.


Aku terbangun dari tidur karena mendengar suara-suara. Jam berapa ini? Kulirik jam meja. Ah, masih tengah malam.

Suara-suara itu terdengar lagi. Dari kamar Ayah-Bunda, yang letaknya tepat di sebelah kamarku. Tidak keras, tapi cukup jelas terdengar.

“Bohong!” Itu suara Bunda.

Aku tegang. Bertengkarkah mereka?

“Sumpah, Di, aku hanya sekali,” sahut Ayah. “Yang kedua, kamu lihat sendiri. Sudah kubilang kami bicara tentang masalah Airin.”

“Ngapain aja kalian yang sekali itu?” cecar Bunda.

“Cuma jalan-jalan ke mall. Beli sepatu dan tas buat dia.”

Oh, syukurlah kalau Ayah tidak melakukan hal lain yang lebih mengerikan.

“Kenapa?” cecar Bunda lagi.

“Aku bosan menunggumu meluangkan waktu. Kau selalu sibuk.”

“Alasan!”

“Sumpah! Aku kangen jalan-jalan berdua denganmu, tapi kau selalu saja tak sempat.”

“Lalu kenapa dia?”

“Karena dia mengingatkanku padamu waktu remaja dulu.”

“Bohong!”

“Sudah, Di. Aku sudah jujur padamu. Terserah kau mau percaya atau tidak.”

Sepi. Lama tak terdengar apa-apa lagi.

Aku mulai gelisah.

Ya Tuhan, jangan biarkan mereka berlarut-larut dalam kemarahan. Kumohon ….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s