Guru Privat (Part 11)

“Saya curiga Airin tidak benar-benar jatuh cinta.”

Aku terkejut. Apa maksudnya?

“Lalu, mengapa dia bercerita begitu?” tanyaku tak paham.

Diana menatapku lurus-lurus.

“Justru itu yang saya ingin tahu.”

Duh! Mengapa dia menatapku begitu rupa?

Apa yang ada di pikirannya sekarang? Dia bilang tak percaya Airin benar-benar jatuh cinta, hanya karena tak bercerita padanya.

Dia bilang aneh bahwa Airin justru menceritakan padaku dan ayahnya. Apa anehnya, coba? Airin dan aku sudah cukup lama bergaul. Cukup akrab untuk dibilang berteman, bukan sekedar guru privat dan murid.

“Kapan tepatnya Airin mengatakan masalahnya, Mbak Dena?” tanya Diana mengagetkanku.

Aku berpikir beberapa saat.

“Mmm …, kapan ya, tepatnya?” gumamku sambil mengingat-ingat.

“Sebelum atau sesudah saya keluar kota?”

“Sesudah,” jawabku pasti.

Kalau itu sih jelas aku ingat. Bukankah Airin berubah setelah acara jalan-jalan itu batal? Batal untuknya, maksudku.

“Sebelum atau sesudah dia meninggalkan Mbak Dena sendiri di ruang tamu?” tanya Diana lagi.

“Sesudah itu juga,” jawabku lagi.

Diana diam. Seperti berpikir. Dia mengaduk-aduk es jeruknya seolah tanpa minat, matanya tampak menerawang.

Aku masih mengawasinya dengan seksama. Perempuan ini cerdas, dia terlihat seperti sedang memikirkan kemungkinan paling masuk akal menurutnya.

Detak jantungku jadi bertambah kencang. Tebersit kekhawatiran di dalam sini. Rasa takut yang tak ingin kuakui.

Namun, mengakuinya atau tidak, tetap saja aku takut. Takut karena sadar masih menyembunyikan sesuatu. Lebih takut lagi kalau harus mengatakannya.

Ah, sungguh, aku menyesal sekarang. Gara-gara menuruti keinginan sesaat, akhirnya terjebak begini.

Diana menyeruput es jeruknya pelan. Lalu menatapku kembali. Wajahnya masih terlihat biasa saja, tetapi entah mengapa hatiku berdesir lagi.

“Baiklah,” katanya pelan, “saya rasa lebih baik bertanya langsung saja pada Airin.”

Diana bangkit dari duduknya. Aku juga. Lalu kami berjabat tangan dan berpisah.


Aku mengemasi pakaian di lemari dan memasukkannya ke travel bag. Sebagian kukemas dalam kardus untuk dikirim ke kampung halaman lewat jasa ekspedisi, agar tak terlalu merepotkan di perjalanan.

Setelah semua pakaian beres, kini giliran sepatu dan tas yang harus kukemasi.

Pandanganku terpaku pada tas dan sepatu yang dibelikan Hendra bulan lalu.

Haruskah dibawa? Atau tinggalkan saja?

Kalau dibawa, aku takut kenangan tentang Hendra tak kan mudah dilupakan. Benda pemberiannya jelas akan selalu mengingatkan padanya. Padahal aku harus bisa melupakannya segera, demi kebaikan semua.

Demi kebaikanku sendiri, juga kebaikan Hendra dan anak-istrinya.

Kalau ditinggal, rasanya sayang juga. Ini tas dan sepatu bagus. Harganya pun lumayan. Belum tentu aku akan bisa membelinya sendiri dalam waktu dekat ini.

Dasar matre, makiku dalam hati. Kesal dengan diri sendiri. Masih sempat-sempatnya memikirkan hal seperti itu, padahal situasi bisa dibilang genting.

Oke, aku memang bodoh.

Akhirnya, kuputuskan untuk memberikan saja tas dan sepatu pemberian Hendra itu kepada teman kosku, Kania.

“Tumben lu baik hati, Den,” komentarnya saat kuberikan sepatu dan tas itu. “Kesambet, ya?”

“Sialan,” makiku sambil menoyor kepalanya sebal. Dia malah tertawa-tawa senang.

“Gue curiga lu patah hati, deh,” katanya mengagetkanku. “Bukannya ini yang lu bilang dikasih sama gebetan lu?”

Aku melotot. Dasar bocah nggak peka!

“Sopan dikit napa, Kania?” tegurku jengkel. “Hendra bukan gebetan! Cuma teman!”

Ups, keceplosan! Kenapa pula harus kusebut nama Hendra? Ah, sial.

Tawa Kania terhenti seketika. Sekarang dia menatapku dengan ekspresi entah apa. Yang jelas bukan ekspresi yang menyenangkan untuk dilihat.

“Hendra?” tegasnya. “Maksud lu, Hendra babenya murid les lu? Lu kan kagak punya temen yang namanya Hendra!”

Mati aku!

Kenapa pula bocah ini harus punya ingatan setajam itu. Padahal aku menyebut nama Hendra hanya beberapa kali.

“Sadar, Den, lu udah main api kalau bener ini dikasih sama si Hendra,” katanya makin membuatku terpojok.

“Iya, aku tahu,” jawabku lirih, “makanya sekarang aku kasih kamu, aku mau pulang kampung saja ….”

Tanpa tertahan lagi, butir-butir air mata merebak dan bergulir ke pipi. Seketika Kania memelukku, menepuk-nepuk punggungku dengan pelan.

“Syukurlah, Den,” katanya bijak. “Gue sayang lu, gue nggak mau lu tersesat jalan, jadi duri dalam daging di rumah tangga orang ….”

Aku terisak pelan di bahunya.

“Makasih, Nia,” ucapku lirih. “Aku juga sadar ini salah … makanya aku pulang kampung untuk melupakannya ….”

Kania melepas pelukannya dan menatapku tajam.

“Bininya curiga?” tanyanya. “Atau anaknya?”

“Entahlah,” jawabku ragu. “Tapi belakangan ini sikap anaknya memang beda.”

Lalu, aku pun menceritakan semua yang terjadi sejak perubahan sikap Airin padaku, kemudian curhatnya tentang jatuh cinta pada ayah temannya, hingga pertemuanku dengan Hendra di pujasera, dan terakhir pembicaraan dengan Diana.

“Astaga, Den!” seru Kania di akhir ceritaku. “Mampus, dah!”

Kutabok bahunya jengkel. Bukannya bersimpati, malah menyumpahi.

“Bener kata nyokapnya, ini aneh!” pekiknya.

Aku langsung bengong. “Aneh gimana?” tanyaku tak paham.

“Si bocah ini cuman cerita ke elu sama bokapnya, kan? Padahal dia deket sama nyokapnya. Coba pikir, kenapa harus elu sama bokapnya?”

Aku mengerjapkan mata. Mencoba berpikir dari sudut pandang Airin. Ya, mengapa harus aku dan ayahnya, padahal dia dekat pada ibunya?

Jangan-jangan … jangan-jangan …?

“Jangan-jangan si bocah tahu elu selingkuhan bokapnya!” cetus Kania.

Glek!

Persis, itulah tadi yang kupikirkan!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s