Telik Sandi

Magelang, Maret 1830

Derap kaki kuda sepasukan prajurit bergemuruh memecah keheningan subuh. Para pengikut setia Pangeran Diponegoro telah kembali dari pertempuran melawan serdadu Belanda.

Gegap gempita suara mereka menyerukan perjuangan membuat kami, para penduduk desa, bersemangat. Kami rela membantu dengan apapun demi perjuangan ini.

Bagaimana tidak, mereka yang berperang itu juga hanya rakyat biasa, bukan prajurit keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Menurut kabar, Pangeran tidak didukung oleh pihak keraton, karena mereka telah dipengaruhi Belanda.

Hal itu justru menambah kesetiaan kami pada Pangeran, karena tahu betapa kejamnya Belanda pada penduduk pribumi.

Aku sendiri juga pribumi. Maka, dengan sukarela, aku membantu perjuangan Pangeran.

Aku melangkah ke dapur, melihat Poniyem sedang duduk di dhingklik, menghadapi ceret di atas pawon.

“Yem, sudah masak air, ‘kan? Buatkan mereka minuman hangat, untuk penawar lelah,” perintahku pada Poniyem, adikku.

“Iya, Kang,” sahut Poniyem patuh, “ini hampir mendidih. Akan kubuatkan kopi. Tinggal nanti Kakang bawa ke sana.”

Aku mengangguk, segera merapikan baju dan sarung yang kukenakan. Tak lupa memakai ikat kepala agar rambutku lebih rapi dan tidak mengganggu penglihatan.

Begitu kopi siap, aku membawanya ke barak tempat pasukan beristirahat. Sampai di barak itu aku bertemu Juminah, anak gadis tetangga, membawakan ubi rebus untuk pejuang.

Berani sekali dia.

Tidakkah dia takut berjalan sendirian sepagi ini? Rumahnya memang tidak jauh, tetapi harus melewati rumpun bambu dan kebun kopi. Subuh-subuh begini masih gelap.

Ah, mungkin sebenarnya dia takut. Bagaimanapun, Juminah hanya perempuan biasa. Mungkin gadis itu memberanikan diri demi mendukung perjuangan.

Diam-diam, timbul rasa kagum dalam hatiku, sekaligus rasa sayang.

“Kau sendirian, Nah?” tanyaku berbasa-basi.

Inggih, Kang,” jawabnya. “Kang Wagiman juga sendirian?”

Aku tertawa kecil. “Duh Gusti, aku ini laki-laki, Nah,” kataku geli. “Apa yang perlu kutakutkan?”

Juminah hanya tersenyum samar dan cepat-cepat berlalu. Aku tahu, sebagaimana gadis-gadis lain, dia tidak banyak bicara dengan laki-laki. Maka, aku pun membiarkannya.

Diam-diam, aku memperhatikan Juminah melangkah cepat dan menghilang di balik rimbun kebun kopi. Kain dan kebaya sederhana yang dikenakannya tampak tak mengurangi kegesitannya.

“Cantik, ya?”

Aku menoleh, wajahku terasa menghangat, malu. Mungkin sedikit memerah, entahlah. Kang Tukijo tersenyum-senyum jahil melihatku salah tingkah.

Dia baru beberapa hari di sini. Entah pindahan dari mana, aku tak begitu paham.


Sejujurnya, banyak hal yang tak begitu kupahami selama perang ini. Bukan hanya Juminah atau Kang Tukijo, tapi juga beberapa pejuang pengikut Pangeran.

Baru-baru ini, beberapa di antaranya datang lalu menghilang. Kemudian kudengar dari desas-desus, mereka adalah telik sandi musuh yang menyamar. Tugas telik sandi adalah mencari dan melaporkan segala informasi tentang pihak musuh.

Para telik sandi musuh yang ketahuan itu telah mendapatkan hukuman atas pengkhianatan mereka, karena itu tak terlihat lagi.

Namun, beberapa hari ini, keadaan semakin menggelisahkan. Kami menderita kekalahan demi kekalahan dalam beberapa pertempuran. Banyak pejuang terwanan.

Sepertinya, kerja telik sandi musuh berhasil. Kami mulai saling mengamati, saling mencurigai, jangan-jangan ada telik sandi di antara kami.

Sementara itu, perhatianku sering tersita oleh kehadiran Juminah. Gadis manis itu diam-diam sering hadir dalam benakku.

Kurasa, aku mulai mabuk kepayang. Setiap kali melihatnya, hati berdebar-debar. Setiap kali mengingatnya, angan-angan melayang.

Mungkin, Juminah merasakan juga apa yang kurasakan. Karena setiap kali kami bertemu pandang, dia segera menunduk tersipu, dengan pipi merona. Cantik sekali.

“Kalau Kakang suka, datangi saja orang tuanya, Kang,” usul Poniyem suatu hari, saat aku diam-diam mengamati Juminah dari balik jendela.

Aku menoleh, malu karena ketahuan mengintip Juminah yang mengantarkan makanan ke barak pejuang.

“Kau yakin?” tanyaku.

Aku merasa perlu mempertimbangkan pendapat Poniyem. Sejak orang tua kami menjadi korban kekejaman Belanda, dia menjadi tanggung jawabku sepenuhnya. Jangan sampai dia tak nyaman dengan iparnya kelak.

“Entahlah, Kang …,” jawab Poniyem, terdengar ragu.

Kulihat Poniyem sedikit kikuk, sepertinya ada yang mengganjal di hatinya.

“Ada apa?” tanyaku. “Kalau ada yang ingin kau katakan, katakan saja.”

Poniyem menatapku, raut wajahnya seolah tak yakin.

“Beberapa hari yang lalu aku melihat Yu Juminah ….”

“Melihat Juminah di mana? Sedang apa?” tanyaku beruntun.

Dor!

Aku terkejut, Poniyem bahkan sampai terlonjak. Itu suara bedhil!

“Lariii!” teriak para wanita di antara jerit ketakutan anak-anak.

“Berlindung! Masuk rumah!” teriak para lelaki.

Aku mengendap-endap keluar rumah dengan menghunus golok, menuju tempat keributan itu, setelah menyuruh Poniyem tetap di dalam rumah.

Tampak serombongan serdadu Belanda memasuki desa kami. Semuanya siap dengan senjata di tangan.


Aku tertunduk lesu. Pangeran merelakan dirinya ditangkap dengan syarat semua pejuang yang tertawan dibebaskan. Betapa cinta Pangeran pada rakyatnya ….

Belanda pun menyetujui syarat itu. Kawan-kawan kami telah kembali kini. Namun, tanpa Pangeran, apa yang bisa kami perbuat?

Tak ada. Kami rakyat jelata yang tak pernah belajar siasat perang. Kami hanya mengikuti perintah Pangeran.

“Kang ….”

Aku menoleh, tampak Poniyem baru saja masuk rumah, napasnya terengah.

“Ada apa?” tanyaku cepat.

Aku bangkit dari kursi kayu panjang, menghampiri Poniyem. Menuntunnya ke kursi dan mendudukkannya.

“Yu Juminah ….”

“Juminah kenapa?”

“Dia akan pergi dari desa ini, Kang. Aku melihatnya berkemas.”

Hatiku mencelos rasanya. Padahal aku sudah berniat untuk melamarnya, tinggal menunggu waktu yang tepat. Aku yakin Juminah akan menyambut gembira.

“Ke mana dia pergi, Yem?” tanyaku penasaran.

Poniyem menggeleng. “Lebih baik Kakang ke sana dan melamarnya sekarang, sebelum terlambat.”


Syukurlah aku belum terlambat.

Kereta kuda yang akan membawa Juminah pergi masih di halaman rumah. Tampak barang-barang sudah siap di kereta, tetapi tak terlihat kusirnya. Bergegas aku menuju pintu dan mengucap salam.

“Kang Wagiman?” Juminah tampak terkejut saat membuka pintu.

“Iya, Nah,” jawabku mantap. “Aku ingin menemui orang tuamu.”

“Untuk apa, Kang?” tanyanya.

“Aku mau nembung kamu.”

Juminah menutup mulutnya yang ternganga dengan telapak tangan, mungkin kaget. Matanya melebar memandangku.

“Kamu mau, ‘kan, Nah?” tanyaku, harap-harap cemas.

Juminah menoleh ke dalam rumah, celingukan ke kanan-kiri. Saat itulah terdengar suara dari balik pintu.

“Ayo cepat, Nah! Kita ditunggu Meneer, ada tugas baru ….”

Aku terkesiap melihat siapa yang muncul dari balik pintu. Kang Tukijo!

Ya Tuhan!

Mereka kaki tangan musuh? Telik sandi Belanda? Pengkhianat!

Darahku terasa mendidih. Akan kuhabisi mereka!

Namun ….

Aku hanya bertangan kosong, sedangkan Kang Tukijo telah mengacungkan bedhil tepat di keningku ….


Catatan :
Dhingklik : bangku
Pawon : perapian/tungku untuk memasak
Inggih : ya
Telik sandi : mata-mata
Bedhil : senapan
Nembung : melamar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s