Guru Privat (Part 10)

“Pembohong!” jeritku murka, secepat kilat meraih rambut Kak Dena yang terurai bebas di pundak.

Segenggam rambutnya kutarik paksa, membuatnya mengaduh, meringis dengan kepala condong ke arahku. Biar kuberi dia pelajaran, supaya tahu diri dan jauh-jauh dari laki-laki beristri, terutama Ayah.

Pedih kulit telapak tanganku, pedih mataku.

Namun, lebih pedih lagi hatiku, menyadari bahwa aku tak bisa menjaga hati Bunda!


Marahlah, Bunda! Murkalah! Hajar saja perempuan tak tahu diri ini, biar kupegangi dia erat-erat.

Namun, bukannya melayang dengan keras ke wajah Kak Dena, tangan Bunda justru mendarat lembut di bahuku.

“Sudah, Airin,” bujuk Bunda kalem, sambil memeluk bahuku. “Ingat, kita ke sini untuk makan, bukan untuk bikin drama.”

Eh? Tak salah dengarkah aku?

Kutatap Bunda, beberapa saat tanpa berkata apa-apa. Terbuat dari apakah hatinya? Bagaimana mungkin bisa setenang ini melihat suaminya berkencan dengan perempuan lain? Tidakkah perasaannya terluka? Tidakkah merasa terhina?

Lalu tatapanku beralih kepada Ayah, yang dengan tegang menatapku pula. Apa kurangnya Bunda, Yah? Apa yang Ayah cari pada perempuan ini, yang lebih dari Bunda?

Terakhir, kualihkan pandangan pada gadis sial*n yang rambutnya masih dalam genggamanku. Wajahnya berkerut menahan sakit, tapi kulihat dia mengawasi dari sudut mata.

“Nggak jadi aja, Bunda,” cetusku. “Udah nggak lapar lagi.”

Kulepas rambutnya dari genggaman. Dengan menahan amarah, kuatur napas agar tenang kembali. Kalau Bunda tenang, aku juga harus tenang.

“Baiklah, kalau nggak lapar lagi, kita pulang saja,” kata Bunda.

“Maafkan kami sudah mengganggu, Dena. Permisi.”

Aku nyaris melotot. Bundaaa! Bisa-bisanya malah Bunda yang minta maaf? Gemas sekali aku pada Bunda sekarang.

Bunda berbalik dan pergi, menyeretku bersamanya.

Apa-apaan, sih, Bunda ini? Seharusnya yang melarikan diri itu Kak Dena, ‘kan? Dia yang ketahuan berkencan dengan Ayah, suami sah Bunda. Lah, kok malah Bunda yang menyeretku pergi?

Masih tak mengerti, aku menurut saja waktu Bunda membawaku pulang. Bagaimanapun, aku tak berani membantahnya.

Sepanjang perjalanan, kami hanya membisu. Aku masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi. Tidakkah Ayah dan Kak Dena merenungkan cerita tentang aku jatuh cinta pada ayah temanku waktu itu? Tidakkah mereka merasa tersindir? Tidakkah ingin berhenti, sebelum melangkah lebih jauh dan akhirnya benar-benar tersesat tanpa bisa kembali?

Bunda pun kini tak kalah membingungkan. Bukankah seharusnya Bunda marah, bahkan kalau perlu mengamuk? Mengapa malah dengan tenangnya mengajakku pergi meninggalkan mereka?

Dengan sudut mata, kulirik Bunda yang sedang menyetir. Wajahnya datar dan kaku. Matanya yang mengawasi jalan bersorot tajam dan dingin. Oh, rupanya aku salah paham. Bunda bukannya tidak marah. Wajahnya tak pernah sedatar dan sekaku ini saat bersamaku.

Maka aku pun diam, hingga kami sampai di rumah.

Bunda bergegas ke kamar. Begitu pula aku, masuk kamarku sendiri.


Kalian tahu apa yang paling menyakitkan di dunia ini?

Adalah ketika tahu orang tua kita bermasalah, tapi tak bisa membantu menyelesaikannya.

Aku telah berusaha menghindarkan Bunda dari sakit hati. Tak memberitahunya bahwa Ayah berkencan dengan Kak Dena. Aku ingin menyelesaikan dengan damai, menyadarkan mereka secara tak langsung.

Namun, kenyataan tak seindah rencana. Bukannya sadar dan berhenti, mereka justru berkencan lagi. Lebih mengagetkan lagi, kencan itu persis setelah Kak Dena berpamitan, mengatakan akan pulang kampung. Celakanya, sekali ini justru Bunda ikut memergoki.

Oh, apa yang akan terjadi selanjutnya?

Aku tahu Bunda marah, hanya saja menahan diri untuk tidak meledak di tempat umum. Kebingunganku dengan sikap Bunda berubah menjadi kekaguman. Sungguh hebat! Ah, Bunda memang perempuan hebat. Selain cantik dan pintar, juga sukses berkarier. Bunda perempuan mandiri, tanpa Ayah pun bisa mengurus dirinya sendiri.

Kini, aku dihantui ketakutan baru. Ketakutan yang lebih mengerikan, hingga aku tak bisa tenang. Bagaimana kalau Bunda begitu marahnya, sampai ingin berpisah dari Ayah?

Aku keluar kamar dan menuju kamar Ayah-Bunda, tak tahan untuk mencurahkan kegelisahanku pada Bunda.

Kuketuk pintu kamar, lalu menunggu jawaban.

“Masuk!” Terdengar suara Ayah.

Oh, rupanya Ayah juga sudah pulang. Syukurlah.

Pelan-pelan, aku membuka pintu dan masuk ke kamar. Ayah sedang duduk di pinggiran ranjang, terlihat sedikit kusut. Lah, mana Bunda? Pelan-pelan, aku mendekati Ayah.

“Bunda mana, Yah?” tanyaku tanpa basa-basi.

Ayah menggeleng lesu. Matanya redup, tak bercahaya seperti biasanya.

“Lho, bukannya Bunda tadi di sini?” cecarku tak puas.

Ayah menghela napas.

“Iya,” jawabnya lemah. “Tapi, begitu Ayah masuk kamar, Bunda langsung keluar.”

Hah? Seketika hatiku terasa dingin, bahkan sekujur tubuh dialiri hawa dingin. Jangan-jangan ….

“Bunda bilang apa tadi?” tanyaku sedikit panik.

Ayah menggeleng lagi. “Nggak bilang apa-apa, langsung keluar begitu saja.”

Tanpa bicara lagi, aku keluar kamar dan meninggalkan Ayah begitu saja. Langsung menuju halaman. Mobil Bunda tak ada!

Oh, Tuhan, ke mana Bunda pergi? Mengapa tak berpamitan padaku? Begitu marahnyakah, hingga begitu Ayah pulang, Bunda justru menghindar?

Rasa takut merayapi hati. Ya Tuhan, jangan biarkan Bunda meninggalkanku. Jangan biarkan Bunda meninggalkan kami. Aku ingin kami kembali bersatu, bersama selalu dalam suka-duka, seperti dulu.

Tanpa terasa, satu demi satu air mataku menitik. Masih termangu di teras rumah, dalam kebingungan dan ketakutan, aku berbisik lirih, “Tuhan, kembalikan Bunda ….”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s