Guru Privat (part 9)

“Ayah!”

Kulihat Hendra menjadi gugup. Dia melihat ke belakangku, lalu bangkit berdiri.

Heran, aku pun menoleh.

Di sana, berjarak lima meja dariku, berdiri Airin dan Diana, dengan tangan menutup mulut dan mata melebar.

Matilah aku!

Lalu, tahu-tahu Airin sudah berada di sampingku.

“Pembohong!” serunya seraya menarik rambutku.

Ya Tuhan, betapa memalukannya. Orang-orang di sekitar pasti berpikir aku pelakor yang tertangkap basah. Padahal aku hanya ….

Hanya apa? Bukankah kau memang berkencan dengan Hendra di belakang anak-istrinya? Apa namanya kalau bukan pelakor?

Pedih kulit kepalaku, pedih mataku.

Namun, lebih pedih lagi hatiku, menyadari bahwa aku memang seperti yang mereka sangkakan. Pelakor!


Aku bersyukur Diana tetap tenang menghadapi situasi yang memalukan ini. Dengan penuh kelembutan, dia membujuk Airin untuk melepaskan tangannya dari rambutku.

Beruntunglah aku, Airin masih mau mendengarkan kata-kata ibunya.

Dengan sudut mata kulihat, wajahnya sudah merah padam. Matanya bersorot garang.

“Sudah, Airin,” bujuk Diana lembut, sambil memeluk bahunya. “Ingat, kita ke sini untuk makan, bukan untuk bikin drama.”

Airin menatap Diana, beberapa saat tanpa berkata apa-apa. Lalu, tatapannya beralih kepada Hendra, yang dengan tegang menatapnya pula. Terakhir, dia mengalihkan pandangan padaku.

“Nggak jadi aja, Bunda,” cetusnya sambil masih menatapku garang. “Udah nggak lapar lagi.”

Diana berpandangan sesaat dengan Hendra, lalu menghela napas panjang.

“Baiklah, kalau nggak lapar lagi, kita pulang saja,” katanya tenang sambil mengelus kepala Airin.

“Maafkan kami sudah mengganggu, Dena. Permisi,” pamitnya sambil masih tersenyum tipis. Aku tahu itu senyum palsu, senyum yang dipaksakan. Mana ada perempuan masih bisa tersenyum tulus mendapati suaminya berkencan dengan perempuan lain?

Setengah menyeret Airin, Diana berlalu meninggalkan kami berdua.

Tanpa berkata apa-apa lagi, aku pun beranjak meninggalkan tempat itu, bahkan tanpa berpamitan pada Hendra. Aku sudah terlalu malu. Tak punya muka lagi rasanya di depan para pengunjung pujasera itu. Memang Dianalah yang pergi meninggalkan kami, tetapi semua orang tahu, akulah si pecundang.


Pecundang.

Benarkah aku pecundang?

Benarkah aku pelakor, perebut lelaki orang?

Tidak. Aku sudah berniat untuk berhenti, kembali ke jalan yang benar. Sudah menghubungi Hendra dan Airin, berpamitan pada mereka. Sudah mengundurkan diri.

Aku menemui Hendra lagi bukan untuk kencan romantis, tetapi membicarakan masalah Airin. Itu pun karena lelaki itu yang meminta. Dikiranya aku tahu lebih banyak tentang masalah Airin, maka dia bertanya.

Sungguh, aku sudah berhenti. Karena sejak awal mula pun sudah ragu, menyadari langkahku keliru.

Namun, mengapa di saat aku sudah berhenti, justru ketahuan oleh Diana dan Airin? Mengapa harus dipermalukan di tempat umum? Mengapa …?

Tengah aku berkutat dengan pikiranku sendiri, ponsel berdenting tanda ada pesan masuk. Siapa pula itu?

[Maafkan aku, Dena]

Itu Hendra. Masih berani juga mengirim pesan padaku? Padahal anak-istrinya pasti sedang murka padanya.

[Aku terlalu kaget tadi. Jadi tak tahu harus berbuat apa]

Ya, aku tahu, aku sendiri pun begitu. Semuanya terjadi begitu cepat dan tak terduga. Bahkan aku pun spontan meninggalkannya sendirian di sana, tanpa berpikir lagi.

[Maafkan aku telah memaksamu menemuiku lagi]

Dan aku pun bodoh, mau saja menurutimu.

Sekarang, tidak lagi. Aku tak mau lagi membalas pesannya. Kubiarkan pesan itu susul-menyusul tanpa sambutan.

Namun, aku masih berhutang penjelasan pada Diana. Aku tak kan tenang sebelum bicara padanya. Dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi kemarin di pujasera, agar tak terjadi salah paham lagi. Biarlah aku mengaku salah, dan meminta maaf padanya.


Diana menatapku tajam.

Aku hanya bisa pasrah. Paling tidak, lega hatiku setelah mengatakan semua padanya. Kalau setelah ini dia tak mau memaafkan, ya sudahlah. Aku akan pergi jauh, kembali ke kampung halaman. Biarlah semua cerita tentang Hendra terkubur di sini, tak usah diingat lagi.

Tak tahan membalas tatapannya yang menusuk, aku menunduk dan pura-pura sibuk dengan es jeruk di depanku.

Tidak, kami tidak di tempat yang kemarin. Ini tempat yang lain lagi. Pujasera yang kemarin telah menjadi hantu bagiku, menakutkan.

“Jadi, Airin benar-benar mengadukan masalahnya ke Mbak Dena?” tanya Diana setelah semua penjelasanku selesai.

Aku mengangkat wajah dan balas memandangnya, lalu mengangguk.

Diana tampak berpikir keras. Matanya menerawang. Beberapa saat dia hanya berdiam diri begitu tanpa aku berani mengusiknya. Sungguh, rasa bersalah ini telah membuatku seperti pecundang di depannya.

“Saya merasa aneh, Mbak Dena ….” gumamnya pelan, seperti tak yakin dengan pikirannya sendiri.

“Aneh bagaimana, Bu?” tanyaku tak paham.

“Airin sangat terbuka pada saya. Apa saja masalah yang dihadapi, dia bisa menceritakannya pada saya. Tapi kali ini, mengapa dia sama sekali tak bicara apa-apa?” tuturnya panjang lebar. “Sebaliknya, dia malah menceritakannya pada ayahnya dan Mbak Dena. Tidakkah ini aneh?”

Aku memandangnya ragu.

“Maksud Ibu?” tanyaku lagi, penasaran.

Diana menggeleng.

“Saya curiga Airin tidak benar-benar jatuh cinta.”

Aku terkejut.

“Jadi, untuk apa dia bilang begitu …?” tanyaku gamang.

Diana menatapku lekat-lekat.

“Justru itu yang saya ingin tahu.”

Duh! Mengapa dia menatapku begitu rupa?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s