Guru Privat (Part 12)

“Tuhan, kembalikan Bunda ….”

Kuusap air mata yang mulai membanjiri pipi. Sungguh, aku takut kalau-kalau sampai Bunda memutuskan untuk meninggalkan kami, karena marah pada Ayah.

“Airin …,” panggil Ayah yang ternyata telah sampai di sampingku. “Ayo masuk, sudah hampir malam.”

Aku berbalik dan masuk tanpa berkata apa-apa. Kubiarkan Ayah mengikuti di belakang. Beberapa kali terdengar suara helaan napas panjang Ayah, tetapi aku tak tertarik untuk menanyai apa yang dirisaukannya.

Aku sendiri sedang risau. Ayah jelas telah tertangkap basah berkencan dengan Mbak Dena. Bunda tak berkata apa-apa tentang hal itu, tetapi nyatanya kini Bunda pergi tanpa pamit.

Ke mana?

Mengapa tak pamit padaku?

Apakah Bunda marah juga padaku karena tak memberitahunya sejak dulu?

Bagaimana dengan Ayah? Tidakkah Bunda bertanya pada Ayah?

Aku menoleh dan melihat Ayah masih mengikuti. Tak jadi masuk kamar, aku berbelok dan duduk di sofa. Seperti yang sudah kuduga, Ayah pun duduk di depanku.

“Ayah,” panggilku pelan. “Apakah Bunda menanyai Ayah tentang kemarin?”

Ayah menggeleng.

“Ayah sudah menjelaskan, kami bertemu karena Ayah ingin menanyakan sesuatu tentang kamu.”

Sesuatu tentang aku?

“Apa itu, Yah? Mengapa Ayah tak bertanya padaku saja?” cecarku.

Ayah menatapku lekat-lekat. Seperti sedang menimbang-nimbang.

“Kamu bilang jatuh cinta pada ayah temanmu,” jawabnya. “Ayah ingin tahu lebih banyak, maka bertanya padanya. Kalian cukup dekat, Ayah pikir kamu bercerita lebih banyak padanya.”

Aku terdiam. Ternyata aku salah strategi. Cerita karangan tentang aku jatuh cinta itu sebenarnya hanya pancingan agar Ayah dan Kak Dena instrospeksi diri. Agar mereka sadar bahwa hal itu menyakiti hati kami, aku dan Bunda.

Nyatanya, hal itu malah dijadikan alasan untuk mereka bertemu lagi. Kacau!

Ternyata orang dewasa itu tidak peka. Huh!

“Ayah yakin hanya sekali itu bertemu Kak Dena?” pancingku.

Ayah memandangku dengan dahi berkerut. Nah, semoga sekarang Ayah mau terbuka dan mengakui kesalahannya.

“Apa maksudmu, Rin?”

Bukannya menjawab, Ayah malah balik bertanya. Ah, menyebalkan!

“Ayah percaya aku jatuh cinta pada ayah temanku sendiri?”

Ayah diam.

“Itu bohong, Yah. Cuma pura-pura. Tapi Ayah sudah langsung melarangku. Ayah menyuruhku melupakan hal itu.”

Dahi Ayah makin berkerut, tapi masih tetap diam.

“Kalau aku nggak boleh, bagaimana dengan Kak Dena? Menurut Ayah, dia boleh jatuh cinta sama ayah temannya? Lalu bagaimana dengan Ayah, boleh jatuh cinta sama gadis lain?”

“Apa maksudmu, Rin?”

Baiklah, aku beberkan saja sekalian, supaya tak usah bertele-tele lagi.

“Aku melihat Ayah dan Kak Dena di mall itu waktu Bunda keluar kota. Padahal Ayah bilang ada urusan pekerjaan. Kak Dena bilang mau revisi skripsi.”

Wajah Ayah berubah-ubah. Pucat, lalu merah, lalu entah apa lagi. Keringat menitik di dahinya.

“Itulah yang memaksaku mengarang cerita itu, Yah. Aku berharap Ayah dan Kak Dena melihat ke dalam diri sendiri.”

Ayah tetap diam. Namun, keringat di dahinya makin banyak.

“Aku nggak mau bilang Bunda, takut menyakiti hatinya. Tapi, Bunda malah melihat sendiri Ayah bersama Kak Dena. Aku benci!”

Kulempar bantal sofa, ke wajah Ayah. Oh, tidak, Ayah menangkapnya lebih dulu.

“Ayah jahat!”

Aku bangkit dan menghambur ke Ayah, siap memukulnya. Namun, gerakanku terhenti. Sepasang tangan memeluk dan menahanku hingga tak bisa menyentuh Ayah.

“Sudah, Sayang.”

Bunda!

Ya Tuhan, syukurlah Bunda telah kembali. Seketika aku berbalik dan memeluknya erat-erat.

“Bunda, jangan pergi lagi … jangan tinggalkan aku!”

Tangisku pecah di bahu Bunda.

“Jangan pergi lagi, Bunda, aku takut ….”

Bunda mengelus kepalaku penuh kasih.

“Bunda nggak ninggalkan kamu, Nak,” sahutnya menenangkanku. “Bunda hanya menemui Mbak Dena.”

Aku terkejut. Kuangkat wajah dari bahu Bunda dan menatapnya penuh tanya.

“Untuk apa, Bunda?”

Bunda tersenyum. “Jangan khawatir, nggak apa-apa. Kami cuma bicara.”

Aku masih menatap Bunda, meminta penjelasan. Namun, Bunda hanya tersenyum dan menyuruhku tidur karena sudah malam.


Aku terbangun dari tidur karena mendengar suara-suara. Jam berapa ini? Kulirik jam meja. Ah, masih tengah malam.

Suara-suara itu terdengar lagi. Dari kamar Ayah-Bunda, yang letaknya tepat di sebelah kamarku. Tidak keras, tapi cukup jelas terdengar.

“Bohong!” Itu suara Bunda.

Aku tegang. Bertengkarkah mereka?

“Sumpah, Di, aku hanya sekali,” sahut Ayah. “Yang kedua, kamu lihat sendiri. Sudah kubilang kami bicara tentang masalah Airin.”

“Ngapain aja kalian yang sekali itu?” cecar Bunda.

“Cuma jalan-jalan ke mall. Beli sepatu dan tas buat dia.”

Oh, syukurlah kalau Ayah tidak melakukan hal lain yang lebih mengerikan.

“Kenapa?” cecar Bunda lagi.

“Aku bosan menunggumu meluangkan waktu. Kau selalu sibuk.”

“Alasan!”

“Sumpah! Aku kangen jalan-jalan berdua denganmu, tapi kau selalu saja tak sempat.”

“Lalu kenapa dia?”

“Karena dia mengingatkanku padamu waktu remaja dulu.”

“Bohong!”

“Sudah, Di. Aku sudah jujur padamu. Terserah kau mau percaya atau tidak.”

Sepi. Lama tak terdengar apa-apa lagi.

Aku mulai gelisah.

Ya Tuhan, jangan biarkan mereka berlarut-larut dalam kemarahan. Kumohon ….


Iklan

Takhayul

“Mbok, lihat kalungku, ndak?” tanyaku pada simbok yang sedang asyik memberi makan ayam di halaman samping.

Simbok menoleh, tangannya yang sudah siap menebar pakan ayam terhenti di udara, masih tergenggam erat. Ayam-ayam yang telah menunggu tebaran jatah makan pagi jadi berkotek-kotek riuh.

“Kalung afa, Ndhuk?”

Yah, Simbok. Ditanya malah nanya balik. Mana ucapannya lucu, lagi. Masa, sih, nggak sadar kalau anak perawannya yang cantik ini punya kalung hadiah dari calon suami? Oalah, Mbok, Mbok. Perhatian dikit napa?

Aku mendekati perempuan sederhana itu.

“Kalung emas yang ada bandulnya bentuk hati itu, lho, Mbok,” jawabku. “Mbok ndak lihat?”

Simbok mengernyitkan dahi, makin menambah banyak kerutan di wajahnya. Sebelah tangannya menyelipkan anak rambut yang keluar dari sanggulnya. Sanggul sederhana khas perempuan desa.

Afa yang kewarin di wega wafak, ya?” ucap simbok, terdengar makin lucu.

Sebenarnya dia mau bilang, “Apa yang kemarin di meja bapak, ya?”
Namun, susur di mulut mengganjal bibirnya hingga membuatnya tak bisa mengucap dengan baik.

“Iya, Mbok? Coba aku lihat dulu.”

Segera aku masuk rumah dan menuju meja kesayangan bapak. Meja itu kecil saja, hanya berukuran satu meter persegi. Diletakkan di sudut ruang tengah, tempat bapak biasa mendengarkan radio sambil udud tingwe.

Di meja itu ada radio transistor kecil, jam meja, kotak wadah tembakau dan cengkeh, juga kertas sigaret. Oh ya, ada korek gas mungil juga.

Mana kalungku? Waduh! Bisa gawat ini kalau sampai tidak ketemu. Kalung itu diberikan Mas Karjo sebulan yang lalu, bersama cincin dan gelang yang sesuai, saat lamaran. Kalau sampai hilang ….

Oh, tidak.

Aku mulai panik.

Jangan sampai suara burung yang kudengar tengah malam kemarin itu adalah firasat. Aku tak percaya hal-hal semacam itu. Memang orang di kampung ini percaya, kalau ada suara burung tertentu terdengar tengah malam, bakal ada kejadian yang menyedihkan, misalnya kematian.

Silakan saja kalau mau percaya, asal kejadian menyedihkan itu bukan rencana pernikahanku yang batal.

Dengan lesu, aku keluar rumah. Sudah waktunya berangkat ke sekolah. Sebentar lagi bel berbunyi, anak-anak pasti menunggu ibu gurunya yang cantik ini, eh ….

Setelah berpamitan pada simbok, kukayuh sepeda berangkat kerja.

Sampai di tikungan jalan, aku melambatkan laju sepeda. Di sana, di halaman sebuah rumah dekat tikungan, kulihat Mas Karjo sedang berbincang-bincang dengan Marni, kembang desa yang masih belum menentukan pilihan juga kepada siapa akan melabuhkan hatinya.

Aku tercekat. Jarak mereka begitu dekat. Tangan Mas Karjo bahkan memegang wajah Marni. Jangan-jangan ….

Oh, tidak.

Kukayuh sepeda lebih cepat melewati mereka. Tenang, Ranti, tenangkan hatimu. Kau gadis yang kuat, tak kan menangis melihat mereka.

Lalu air mata pun mengalir deras membanjiri pipiku.


Kustandarkan sepeda di halaman rumah yang tampak sepi. Siang-siang begini, simbok dan bapak masih di sawah. Simbok mengantar menu makan siang sekaligus menemani bapak sampai selesai makan.

Baru saja aku melangkahkan kaki masuk rumah, sebuah suara menghentikanku.

“Hai, Ranti, kenapa kamu?”

Aku menoleh. Rupanya Yu Patmi yang menyapa. Tetangga sebelah rumah itu masih kerabat juga, ibunya adalah kakak simbok.

“Ndak pa-pa, Yu,” jawabku lesu.

Yu Patmi mendekat.

“Ndak pa-pa piye, to, wajahmu murung gitu kok ndak pa-pa,” sahutnya, tak percaya.

Ah, masa aku harus mengatakan padanya apa yang kulihat pagi tadi waktu berangkat kerja? Memalukan.

“Ada apa, to, Ndhuk? Mbok bilang sama Yu Pat, siapa tahu mbakyumu ini bisa membantu.”

Aku memandangnya lesu. Sambil menggeleng, aku masuk rumah lalu duduk di kursi setelah meletakkan tas di meja.

“Kalungku hilang, Yu,” kataku lemah. Sudah, cukup itu saja yang kusampaikan. Jangan sampai nanti dia malah kepikiran dan jadi nggak tenang.

“Kalung lamaran itu?” tanyanya kaget, matanya melebar beberapa saat.

Aku mengangguk lesu.

“Wah, harus segera dicari, Ti. Lebih cepat lebih baik. Jangan sampai ….”

“Iya, Yu,” potongku, lemas.

Baru saja aku akan beranjak ke kamar, terdengar suara motor memasuki halaman lalu berhenti. Lalu wajah Mas Karjo nongol di pintu.

“Ranti, apa bapak di rumah?” tanyanya. “Eh, ada Yu Pat. Sudah lama, Yu?”

Mas Karjo masuk dan langsung duduk di depan Yu Patmi.

“Bapak belum pulang,” jawabku, tak jadi masuk ke kamar dan kembali duduk, kali ini di sebelah Yu Patmi.

“Kamu napa, kok lemes gitu?” tanya Mas Karjo padaku.

Aku memandangnya sesaat, lalu menunduk. Tak tahu harus bilang apa. Yu Pat malah berdiri dan pamit pulang. Ah, sial.

“Ada apa, Ranti?” cecar Mas Karjo lagi.

Pelan-pelan aku mengangkat wajah dan menatapnya. Aku harus berani mengatakannya. Harus.

“Kalungku hilang ….”

Mas Karjo tampak terkejut. “Kalung lamaran itu?”

Aku mengangguk. “Dan beberapa malam lalu aku mendengar suara burung tepat tengah malam.”

Mas Karjo merengut. “Apa hubungannya? Kamu mau bilang kalungmu hilang dicuri burung?”

Sekarang aku yang merengut. Bayangan Mas Karjo dan Marni tadi pagi sangat mengganggu pikiranku.

“Kata orang, itu firasat akan ada hal yang menyedihkan,” jawabku.

“Kamu percaya?”

“Tadinya, sih, ndak. Tapi, terus kalungku hilang, dan tadi pagi ….”

“Tadi pagi kenapa?”

“Aku lihat sampeyan sama Marni.”

“Masa gitu aja sedih?”

Aku mendesah kesal. “Sampeyan ada apa sama Marni?”

“Lha? Maksudmu ki opo, to, Ndhuk?”

Air mataku merebak. Hatiku terasa teriris. Teganya kamu, Mas. Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.

“Bilang saja … kalau sampeyan … suka sama Marni, Mas,” kataku terbata-bata.

“Lhadalah, kok malah ora karu-karuan, to,” keluhnya.

Aku tak tahan lagi, kini menangis terisak-isak. Sakit sekali rasa hati, dia masih berpura-pura begini.

Untunglah saat itu simbok dan bapak pulang.

“E, bakal mantu,” sapa bapak akrab. “Lho, ada apa ini? Kok Ranti nangis?”

Aku tak menjawab, Mas Karjolah yang kemudian bercerita panjang lebar mengapa aku menangis.

“Masa bu guru kok percaya takhayul, ya, Pak? Ngisin-isini,” pungkasnya, meledekku. Sialan.

Bukannya marah anaknya diledek, bapak malah tertawa. Aku heran, apa yang lucu?

“Oalaah, Ndhuk, Ndhuk,” ucap bapak, “kalungmu kan bapak temukan gemlethak di pinggir bak mandi kemarin sore, jadi bapak simpan di meja.”

“Sudah aku cari di meja ndak ada, Pak,” kataku takut-takut.

“Sudah kamu buka kotak tembakau bapak?”

“Eh, belum ….”

Bapak tertawa makin keras.

“Sudah, jangan suka suudzon sama calon suami sendiri. Apalagi cuma modal takhayul gitu. Ambil tu kalung sekarang,” nasehat bapak panjang lebar.

“Tapi tadi pagi dia sama Marni ….”

“Marni dientup tawon, Ndhuk, aku bantu dia ngambil _entup_nya. Lagian dia itu kan sepupuku, kamu lupa?”

Oalah! Malunya aku, ketahuan cemburu!


Guru Privat (Part 11)

“Saya curiga Airin tidak benar-benar jatuh cinta.”

Aku terkejut. Apa maksudnya?

“Lalu, mengapa dia bercerita begitu?” tanyaku tak paham.

Diana menatapku lurus-lurus.

“Justru itu yang saya ingin tahu.”

Duh! Mengapa dia menatapku begitu rupa?

Apa yang ada di pikirannya sekarang? Dia bilang tak percaya Airin benar-benar jatuh cinta, hanya karena tak bercerita padanya.

Dia bilang aneh bahwa Airin justru menceritakan padaku dan ayahnya. Apa anehnya, coba? Airin dan aku sudah cukup lama bergaul. Cukup akrab untuk dibilang berteman, bukan sekedar guru privat dan murid.

“Kapan tepatnya Airin mengatakan masalahnya, Mbak Dena?” tanya Diana mengagetkanku.

Aku berpikir beberapa saat.

“Mmm …, kapan ya, tepatnya?” gumamku sambil mengingat-ingat.

“Sebelum atau sesudah saya keluar kota?”

“Sesudah,” jawabku pasti.

Kalau itu sih jelas aku ingat. Bukankah Airin berubah setelah acara jalan-jalan itu batal? Batal untuknya, maksudku.

“Sebelum atau sesudah dia meninggalkan Mbak Dena sendiri di ruang tamu?” tanya Diana lagi.

“Sesudah itu juga,” jawabku lagi.

Diana diam. Seperti berpikir. Dia mengaduk-aduk es jeruknya seolah tanpa minat, matanya tampak menerawang.

Aku masih mengawasinya dengan seksama. Perempuan ini cerdas, dia terlihat seperti sedang memikirkan kemungkinan paling masuk akal menurutnya.

Detak jantungku jadi bertambah kencang. Tebersit kekhawatiran di dalam sini. Rasa takut yang tak ingin kuakui.

Namun, mengakuinya atau tidak, tetap saja aku takut. Takut karena sadar masih menyembunyikan sesuatu. Lebih takut lagi kalau harus mengatakannya.

Ah, sungguh, aku menyesal sekarang. Gara-gara menuruti keinginan sesaat, akhirnya terjebak begini.

Diana menyeruput es jeruknya pelan. Lalu menatapku kembali. Wajahnya masih terlihat biasa saja, tetapi entah mengapa hatiku berdesir lagi.

“Baiklah,” katanya pelan, “saya rasa lebih baik bertanya langsung saja pada Airin.”

Diana bangkit dari duduknya. Aku juga. Lalu kami berjabat tangan dan berpisah.


Aku mengemasi pakaian di lemari dan memasukkannya ke travel bag. Sebagian kukemas dalam kardus untuk dikirim ke kampung halaman lewat jasa ekspedisi, agar tak terlalu merepotkan di perjalanan.

Setelah semua pakaian beres, kini giliran sepatu dan tas yang harus kukemasi.

Pandanganku terpaku pada tas dan sepatu yang dibelikan Hendra bulan lalu.

Haruskah dibawa? Atau tinggalkan saja?

Kalau dibawa, aku takut kenangan tentang Hendra tak kan mudah dilupakan. Benda pemberiannya jelas akan selalu mengingatkan padanya. Padahal aku harus bisa melupakannya segera, demi kebaikan semua.

Demi kebaikanku sendiri, juga kebaikan Hendra dan anak-istrinya.

Kalau ditinggal, rasanya sayang juga. Ini tas dan sepatu bagus. Harganya pun lumayan. Belum tentu aku akan bisa membelinya sendiri dalam waktu dekat ini.

Dasar matre, makiku dalam hati. Kesal dengan diri sendiri. Masih sempat-sempatnya memikirkan hal seperti itu, padahal situasi bisa dibilang genting.

Oke, aku memang bodoh.

Akhirnya, kuputuskan untuk memberikan saja tas dan sepatu pemberian Hendra itu kepada teman kosku, Kania.

“Tumben lu baik hati, Den,” komentarnya saat kuberikan sepatu dan tas itu. “Kesambet, ya?”

“Sialan,” makiku sambil menoyor kepalanya sebal. Dia malah tertawa-tawa senang.

“Gue curiga lu patah hati, deh,” katanya mengagetkanku. “Bukannya ini yang lu bilang dikasih sama gebetan lu?”

Aku melotot. Dasar bocah nggak peka!

“Sopan dikit napa, Kania?” tegurku jengkel. “Hendra bukan gebetan! Cuma teman!”

Ups, keceplosan! Kenapa pula harus kusebut nama Hendra? Ah, sial.

Tawa Kania terhenti seketika. Sekarang dia menatapku dengan ekspresi entah apa. Yang jelas bukan ekspresi yang menyenangkan untuk dilihat.

“Hendra?” tegasnya. “Maksud lu, Hendra babenya murid les lu? Lu kan kagak punya temen yang namanya Hendra!”

Mati aku!

Kenapa pula bocah ini harus punya ingatan setajam itu. Padahal aku menyebut nama Hendra hanya beberapa kali.

“Sadar, Den, lu udah main api kalau bener ini dikasih sama si Hendra,” katanya makin membuatku terpojok.

“Iya, aku tahu,” jawabku lirih, “makanya sekarang aku kasih kamu, aku mau pulang kampung saja ….”

Tanpa tertahan lagi, butir-butir air mata merebak dan bergulir ke pipi. Seketika Kania memelukku, menepuk-nepuk punggungku dengan pelan.

“Syukurlah, Den,” katanya bijak. “Gue sayang lu, gue nggak mau lu tersesat jalan, jadi duri dalam daging di rumah tangga orang ….”

Aku terisak pelan di bahunya.

“Makasih, Nia,” ucapku lirih. “Aku juga sadar ini salah … makanya aku pulang kampung untuk melupakannya ….”

Kania melepas pelukannya dan menatapku tajam.

“Bininya curiga?” tanyanya. “Atau anaknya?”

“Entahlah,” jawabku ragu. “Tapi belakangan ini sikap anaknya memang beda.”

Lalu, aku pun menceritakan semua yang terjadi sejak perubahan sikap Airin padaku, kemudian curhatnya tentang jatuh cinta pada ayah temannya, hingga pertemuanku dengan Hendra di pujasera, dan terakhir pembicaraan dengan Diana.

“Astaga, Den!” seru Kania di akhir ceritaku. “Mampus, dah!”

Kutabok bahunya jengkel. Bukannya bersimpati, malah menyumpahi.

“Bener kata nyokapnya, ini aneh!” pekiknya.

Aku langsung bengong. “Aneh gimana?” tanyaku tak paham.

“Si bocah ini cuman cerita ke elu sama bokapnya, kan? Padahal dia deket sama nyokapnya. Coba pikir, kenapa harus elu sama bokapnya?”

Aku mengerjapkan mata. Mencoba berpikir dari sudut pandang Airin. Ya, mengapa harus aku dan ayahnya, padahal dia dekat pada ibunya?

Jangan-jangan … jangan-jangan …?

“Jangan-jangan si bocah tahu elu selingkuhan bokapnya!” cetus Kania.

Glek!

Persis, itulah tadi yang kupikirkan!


Telik Sandi

Magelang, Maret 1830

Derap kaki sepasukan kuda bergemuruh memecah keheningan subuh. Para pengikut setia Pangeran Diponegoro telah kembali dari pertempuran melawan serdadu Belanda.

Gegap gempita suara mereka menyerukan perjuangan membuat kami, para penduduk desa, bersemangat. Kami rela membantu dengan apapun demi perjuangan ini.

Bagaimana tidak, mereka yang berperang itu juga hanya rakyat biasa, bukan prajurit keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Menurut kabar, Pangeran tidak didukung oleh pihak keraton, karena mereka telah dipengaruhi Belanda.

Hal itu justru menambah kesetiaan kami pada Pangeran, karena tahu betapa kejamnya Belanda pada penduduk pribumi.

Aku sendiri juga pribumi. Maka, dengan sukarela, aku membantu perjuangan Pangeran.

Aku melangkah ke dapur, melihat Poniyem sedang duduk di dhingklik, menghadapi ceret di atas pawon.

“Yem, sudah masak air, ‘kan? Buatkan mereka minuman hangat, untuk penawar lelah,” perintahku pada Poniyem, adikku.

“Iya, Kang,” sahut Poniyem patuh, “ini hampir mendidih. Akan kubuatkan kopi. Tinggal nanti Kakang bawa ke sana.”

Aku mengangguk, segera merapikan baju dan sarung yang kukenakan. Tak lupa memakai ikat kepala agar rambutku lebih rapi dan tidak mengganggu penglihatan.

Begitu kopi siap, aku membawanya ke barak tempat pasukan beristirahat. Sampai di barak itu aku bertemu Juminah, anak gadis tetangga, membawakan ubi rebus untuk pejuang.

Berani sekali dia.

Tidakkah dia takut berjalan sendirian sepagi ini? Rumahnya memang tidak jauh, tetapi harus melewati rumpun bambu dan kebun kopi. Subuh-subuh begini masih gelap.

Ah, mungkin sebenarnya dia takut. Bagaimanapun, Juminah hanya perempuan biasa. Mungkin gadis itu memberanikan diri demi mendukung perjuangan.

Diam-diam, timbul rasa kagum dalam hatiku, sekaligus rasa sayang.

“Kau sendirian, Nah?” tanyaku berbasa-basi.

Inggih, Kang,” jawabnya. “Kang Wagiman juga sendirian?”

Aku tertawa kecil. “Duh Gusti, aku ini laki-laki, Nah,” kataku geli. “Apa yang perlu kutakutkan?”

Juminah hanya tersenyum samar dan cepat-cepat berlalu. Aku tahu, sebagaimana gadis-gadis lain, dia tidak banyak bicara dengan laki-laki. Maka, aku pun membiarkannya.

Diam-diam, aku memperhatikan Juminah melangkah cepat dan menghilang di balik rimbun kebun kopi. Kain dan kebaya sederhana yang dikenakannya tampak tak mengurangi kegesitannya.

“Cantik, ya?”

Aku menoleh, wajahku terasa menghangat, malu. Mungkin sedikit memerah, entahlah. Kang Tukijo tersenyum-senyum jahil melihatku salah tingkah.

Dia baru beberapa hari di sini. Entah pindahan dari mana, aku tak begitu paham.


Sejujurnya, banyak hal yang tak begitu kupahami selama perang ini. Bukan hanya Juminah atau Kang Tukijo, tapi juga beberapa pejuang pengikut Pangeran.

Baru-baru ini, beberapa di antaranya datang lalu menghilang. Kemudian kudengar dari desas-desus, mereka adalah telik sandi musuh yang menyamar. Tugas telik sandi adalah mencari dan melaporkan segala informasi tentang pihak musuh.

Para telik sandi musuh yang ketahuan itu telah mendapatkan hukuman atas pengkhianatan mereka, karena itu tak terlihat lagi.

Namun, beberapa hari ini, keadaan semakin menggelisahkan. Kami menderita kekalahan demi kekalahan dalam beberapa pertempuran. Banyak pejuang terwanan.

Sepertinya, kerja telik sandi musuh berhasil. Kami mulai saling mengamati, saling mencurigai, jangan-jangan ada telik sandi di antara kami.

Sementara itu, perhatianku sering tersita oleh kehadiran Juminah. Gadis manis itu diam-diam sering hadir dalam benakku.

Kurasa, aku mulai mabuk kepayang. Setiap kali melihatnya, hati berdebar-debar. Setiap kali mengingatnya, angan-angan melayang.

Mungkin, Juminah merasakan juga apa yang kurasakan. Karena setiap kali kami bertemu pandang, dia segera menunduk tersipu, dengan pipi merona. Cantik sekali.

“Kalau Kakang suka, datangi saja orang tuanya, Kang,” usul Poniyem suatu hari, saat aku diam-diam mengamati Juminah dari balik jendela.

Aku menoleh, malu karena ketahuan mengintip Juminah yang mengantarkan makanan ke barak pejuang.

“Kau yakin?” tanyaku.

Aku merasa perlu mempertimbangkan pendapat Poniyem. Sejak orang tua kami menjadi korban kekejaman Belanda, dia menjadi tanggung jawabku sepenuhnya. Jangan sampai dia tak nyaman dengan iparnya kelak.

“Entahlah, Kang …,” jawab Poniyem, terdengar ragu.

Kulihat Poniyem sedikit kikuk, sepertinya ada yang mengganjal di hatinya.

“Ada apa?” tanyaku. “Kalau ada yang ingin kau katakan, katakan saja.”

Poniyem menatapku, raut wajahnya seolah tak yakin.

“Beberapa hari yang lalu aku melihat Yu Juminah ….”

“Melihat Juminah di mana? Sedang apa?” tanyaku beruntun.

“Dor!”

Aku terkejut, Poniyem bahkan sampai terlonjak. Itu suara bedhil!

“Lariii!” teriak para wanita di antara jerit ketakutan anak-anak.

“Berlindung! Masuk rumah!” teriak para lelaki.

Aku mengendap-endap keluar rumah dengan menghunus golok, menuju tempat keributan itu, setelah menyuruh Poniyem tetap di dalam rumah.

Tampak serombongan serdadu Belanda memasuki desa kami. Semuanya siap dengan senjata di tangan.


Aku tertunduk lesu. Pangeran merelakan dirinya ditangkap dengan syarat semua pejuang yang tertawan dibebaskan. Betapa cinta Pangeran pada rakyatnya ….

Belanda pun menyetujui syarat itu. Kawan-kawan kami telah kembali kini. Namun, tanpa Pangeran, apa yang bisa kami perbuat?

Tak ada. Kami rakyat jelata yang tak pernah belajar siasat perang. Kami hanya mengikuti perintah Pangeran.

“Kang ….”

Aku menoleh, tampak Poniyem baru saja masuk rumah, napasnya memburu.

“Ada apa?” tanyaku cepat.

Aku bangkit dari kursi kayu panjang, menghampiri Poniyem. Menuntunnya ke kursi dan mendudukkannya.

“Yu Juminah ….”

“Juminah kenapa?”

“Dia akan pergi dari desa ini, Kang. Aku melihatnya berkemas.”

Hatiku mencelos rasanya. Padahal aku sudah berniat untuk melamarnya, tinggal menunggu waktu yang tepat. Aku yakin Juminah akan menyambut gembira.

“Ke mana dia pergi, Yem?” tanyaku penasaran.

Poniyem menggeleng. “Lebih baik Kakang ke sana dan melamarnya sekarang, sebelum terlambat.”


Syukurlah aku belum terlambat.

Kereta kuda yang akan membawa Juminah pergi masih di halaman rumah. Tampak barang-barang sudah siap di kereta, tetapi tak terlihat kusirnya. Bergegas aku menuju pintu dan mengucap salam.

“Kang Wagiman?” Juminah tampak terkejut saat membuka pintu.

“Iya, Nah,” jawabku mantap. “Aku ingin menemui orang tuamu.”

“Untuk apa, Kang?” tanyanya.

“Aku mau nembung kamu.”

Juminah menutup mulutnya yang ternganga dengan telapak tangan, mungkin kaget. Matanya melebar memandangku.

“Kamu mau, ‘kan, Nah?” tanyaku, harap-harap cemas.

Juminah menoleh ke dalam rumah, celingukan ke kanan-kiri. Saat itulah terdengar suara dari balik pintu.

“Ayo cepat, Nah! Kita ditunggu Meneer, ada tugas baru ….”

Aku terkesiap melihat siapa yang muncul dari balik pintu. Kang Tukijo!

Ya Tuhan!

Mereka kaki tangan musuh? Telik sandi Belanda? Pengkhianat!

Darahku terasa mendidih. Akan kuhabisi mereka!

Namun ….

Aku hanya bertangan kosong, sedangkan Kang Tukijo telah mengacungkan bedhil tepat di keningku ….


Catatan :
Dhingklik : bangku
Pawon : perapian/tungku untuk memasak
Inggih : ya
Telik sandi : mata-mata
Bedhil : senapan
Nembung : melamar

Guru Privat (Part 10)

“Pembohong!” jeritku murka, secepat kilat meraih rambut Kak Dena yang terurai bebas di pundak.

Segenggam rambutnya kutarik paksa, membuatnya mengaduh, meringis dengan kepala condong ke arahku. Biar kuberi dia pelajaran, supaya tahu diri dan jauh-jauh dari laki-laki beristri, terutama Ayah.

Pedih kulit telapak tanganku, pedih mataku.

Namun, lebih pedih lagi hatiku, menyadari bahwa aku tak bisa menjaga hati Bunda!


Marahlah, Bunda! Murkalah! Hajar saja perempuan tak tahu diri ini, biar kupegangi dia erat-erat.

Namun, bukannya melayang dengan keras ke wajah Kak Dena, tangan Bunda justru mendarat lembut di bahuku.

“Sudah, Airin,” bujuk Bunda kalem, sambil memeluk bahuku. “Ingat, kita ke sini untuk makan, bukan untuk bikin drama.”

Eh? Tak salah dengarkah aku?

Kutatap Bunda, beberapa saat tanpa berkata apa-apa. Terbuat dari apakah hatinya? Bagaimana mungkin bisa setenang ini melihat suaminya berkencan dengan perempuan lain? Tidakkah perasaannya terluka? Tidakkah merasa terhina?

Lalu tatapanku beralih kepada Ayah, yang dengan tegang menatapku pula. Apa kurangnya Bunda, Yah? Apa yang Ayah cari pada perempuan ini, yang lebih dari Bunda?

Terakhir, kualihkan pandangan pada gadis sial*n yang rambutnya masih dalam genggamanku. Wajahnya berkerut menahan sakit, tapi kulihat dia mengawasi dari sudut mata.

“Nggak jadi aja, Bunda,” cetusku. “Udah nggak lapar lagi.”

Kulepas rambutnya dari genggaman. Dengan menahan amarah, kuatur napas agar tenang kembali. Kalau Bunda tenang, aku juga harus tenang.

“Baiklah, kalau nggak lapar lagi, kita pulang saja,” kata Bunda.

“Maafkan kami sudah mengganggu, Dena. Permisi.”

Aku nyaris melotot. Bundaaa! Bisa-bisanya malah Bunda yang minta maaf? Gemas sekali aku pada Bunda sekarang.

Bunda berbalik dan pergi, menyeretku bersamanya.

Apa-apaan, sih, Bunda ini? Seharusnya yang melarikan diri itu Kak Dena, ‘kan? Dia yang ketahuan berkencan dengan Ayah, suami sah Bunda. Lah, kok malah Bunda yang menyeretku pergi?

Masih tak mengerti, aku menurut saja waktu Bunda membawaku pulang. Bagaimanapun, aku tak berani membantahnya.

Sepanjang perjalanan, kami hanya membisu. Aku masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi. Tidakkah Ayah dan Kak Dena merenungkan cerita tentang aku jatuh cinta pada ayah temanku waktu itu? Tidakkah mereka merasa tersindir? Tidakkah ingin berhenti, sebelum melangkah lebih jauh dan akhirnya benar-benar tersesat tanpa bisa kembali?

Bunda pun kini tak kalah membingungkan. Bukankah seharusnya Bunda marah, bahkan kalau perlu mengamuk? Mengapa malah dengan tenangnya mengajakku pergi meninggalkan mereka?

Dengan sudut mata, kulirik Bunda yang sedang menyetir. Wajahnya datar dan kaku. Matanya yang mengawasi jalan bersorot tajam dan dingin. Oh, rupanya aku salah paham. Bunda bukannya tidak marah. Wajahnya tak pernah sedatar dan sekaku ini saat bersamaku.

Maka aku pun diam, hingga kami sampai di rumah.

Bunda bergegas ke kamar. Begitu pula aku, masuk kamarku sendiri.


Kalian tahu apa yang paling menyakitkan di dunia ini?

Adalah ketika tahu orang tua kita bermasalah, tapi tak bisa membantu menyelesaikannya.

Aku telah berusaha menghindarkan Bunda dari sakit hati. Tak memberitahunya bahwa Ayah berkencan dengan Kak Dena. Aku ingin menyelesaikan dengan damai, menyadarkan mereka secara tak langsung.

Namun, kenyataan tak seindah rencana. Bukannya sadar dan berhenti, mereka justru berkencan lagi. Lebih mengagetkan lagi, kencan itu persis setelah Kak Dena berpamitan, mengatakan akan pulang kampung. Celakanya, sekali ini justru Bunda ikut memergoki.

Oh, apa yang akan terjadi selanjutnya?

Aku tahu Bunda marah, hanya saja menahan diri untuk tidak meledak di tempat umum. Kebingunganku dengan sikap Bunda berubah menjadi kekaguman. Sungguh hebat! Ah, Bunda memang perempuan hebat. Selain cantik dan pintar, juga sukses berkarier. Bunda perempuan mandiri, tanpa Ayah pun bisa mengurus dirinya sendiri.

Kini, aku dihantui ketakutan baru. Ketakutan yang lebih mengerikan, hingga aku tak bisa tenang. Bagaimana kalau Bunda begitu marahnya, sampai ingin berpisah dari Ayah?

Aku keluar kamar dan menuju kamar Ayah-Bunda, tak tahan untuk mencurahkan kegelisahanku pada Bunda.

Kuketuk pintu kamar, lalu menunggu jawaban.

“Masuk!” Terdengar suara Ayah.

Oh, rupanya Ayah juga sudah pulang. Syukurlah.

Pelan-pelan, aku membuka pintu dan masuk ke kamar. Ayah sedang duduk di pinggiran ranjang, terlihat sedikit kusut. Lah, mana Bunda? Pelan-pelan, aku mendekati Ayah.

“Bunda mana, Yah?” tanyaku tanpa basa-basi.

Ayah menggeleng lesu. Matanya redup, tak bercahaya seperti biasanya.

“Lho, bukannya Bunda tadi di sini?” cecarku tak puas.

Ayah menghela napas.

“Iya,” jawabnya lemah. “Tapi, begitu Ayah masuk kamar, Bunda langsung keluar.”

Hah? Seketika hatiku terasa dingin, bahkan sekujur tubuh dialiri hawa dingin. Jangan-jangan ….

“Bunda bilang apa tadi?” tanyaku sedikit panik.

Ayah menggeleng lagi. “Nggak bilang apa-apa, langsung keluar begitu saja.”

Tanpa bicara lagi, aku keluar kamar dan meninggalkan Ayah begitu saja. Langsung menuju halaman. Mobil Bunda tak ada!

Oh, Tuhan, ke mana Bunda pergi? Mengapa tak berpamitan padaku? Begitu marahnyakah, hingga begitu Ayah pulang, Bunda justru menghindar?

Rasa takut merayapi hati. Ya Tuhan, jangan biarkan Bunda meninggalkanku. Jangan biarkan Bunda meninggalkan kami. Aku ingin kami kembali bersatu, bersama selalu dalam suka-duka, seperti dulu.

Tanpa terasa, satu demi satu air mataku menitik. Masih termangu di teras rumah, dalam kebingungan dan ketakutan, aku berbisik lirih, “Tuhan, kembalikan Bunda ….”


Guru Privat (part 9)

“Ayah!”

Kulihat Hendra menjadi gugup. Dia melihat ke belakangku, lalu bangkit berdiri.

Heran, aku pun menoleh.

Di sana, berjarak lima meja dariku, berdiri Airin dan Diana, dengan tangan menutup mulut dan mata melebar.

Matilah aku!

Lalu, tahu-tahu Airin sudah berada di sampingku.

“Pembohong!” serunya seraya menarik rambutku.

Ya Tuhan, betapa memalukannya. Orang-orang di sekitar pasti berpikir aku pelakor yang tertangkap basah. Padahal aku hanya ….

Hanya apa? Bukankah kau memang berkencan dengan Hendra di belakang anak-istrinya? Apa namanya kalau bukan pelakor?

Pedih kulit kepalaku, pedih mataku.

Namun, lebih pedih lagi hatiku, menyadari bahwa aku memang seperti yang mereka sangkakan. Pelakor!


Aku bersyukur Diana tetap tenang menghadapi situasi yang memalukan ini. Dengan penuh kelembutan, dia membujuk Airin untuk melepaskan tangannya dari rambutku.

Beruntunglah aku, Airin masih mau mendengarkan kata-kata ibunya.

Dengan sudut mata kulihat, wajahnya sudah merah padam. Matanya bersorot garang.

“Sudah, Airin,” bujuk Diana lembut, sambil memeluk bahunya. “Ingat, kita ke sini untuk makan, bukan untuk bikin drama.”

Airin menatap Diana, beberapa saat tanpa berkata apa-apa. Lalu, tatapannya beralih kepada Hendra, yang dengan tegang menatapnya pula. Terakhir, dia mengalihkan pandangan padaku.

“Nggak jadi aja, Bunda,” cetusnya sambil masih menatapku garang. “Udah nggak lapar lagi.”

Diana berpandangan sesaat dengan Hendra, lalu menghela napas panjang.

“Baiklah, kalau nggak lapar lagi, kita pulang saja,” katanya tenang sambil mengelus kepala Airin.

“Maafkan kami sudah mengganggu, Dena. Permisi,” pamitnya sambil masih tersenyum tipis. Aku tahu itu senyum palsu, senyum yang dipaksakan. Mana ada perempuan masih bisa tersenyum tulus mendapati suaminya berkencan dengan perempuan lain?

Setengah menyeret Airin, Diana berlalu meninggalkan kami berdua.

Tanpa berkata apa-apa lagi, aku pun beranjak meninggalkan tempat itu, bahkan tanpa berpamitan pada Hendra. Aku sudah terlalu malu. Tak punya muka lagi rasanya di depan para pengunjung pujasera itu. Memang Dianalah yang pergi meninggalkan kami, tetapi semua orang tahu, akulah si pecundang.


Pecundang.

Benarkah aku pecundang?

Benarkah aku pelakor, perebut lelaki orang?

Tidak. Aku sudah berniat untuk berhenti, kembali ke jalan yang benar. Sudah menghubungi Hendra dan Airin, berpamitan pada mereka. Sudah mengundurkan diri.

Aku menemui Hendra lagi bukan untuk kencan romantis, tetapi membicarakan masalah Airin. Itu pun karena lelaki itu yang meminta. Dikiranya aku tahu lebih banyak tentang masalah Airin, maka dia bertanya.

Sungguh, aku sudah berhenti. Karena sejak awal mula pun sudah ragu, menyadari langkahku keliru.

Namun, mengapa di saat aku sudah berhenti, justru ketahuan oleh Diana dan Airin? Mengapa harus dipermalukan di tempat umum? Mengapa …?

Tengah aku berkutat dengan pikiranku sendiri, ponsel berdenting tanda ada pesan masuk. Siapa pula itu?

[Maafkan aku, Dena]

Itu Hendra. Masih berani juga mengirim pesan padaku? Padahal anak-istrinya pasti sedang murka padanya.

[Aku terlalu kaget tadi. Jadi tak tahu harus berbuat apa]

Ya, aku tahu, aku sendiri pun begitu. Semuanya terjadi begitu cepat dan tak terduga. Bahkan aku pun spontan meninggalkannya sendirian di sana, tanpa berpikir lagi.

[Maafkan aku telah memaksamu menemuiku lagi]

Dan aku pun bodoh, mau saja menurutimu.

Sekarang, tidak lagi. Aku tak mau lagi membalas pesannya. Kubiarkan pesan itu susul-menyusul tanpa sambutan.

Namun, aku masih berhutang penjelasan pada Diana. Aku tak kan tenang sebelum bicara padanya. Dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi kemarin di pujasera, agar tak terjadi salah paham lagi. Biarlah aku mengaku salah, dan meminta maaf padanya.


Diana menatapku tajam.

Aku hanya bisa pasrah. Paling tidak, lega hatiku setelah mengatakan semua padanya. Kalau setelah ini dia tak mau memaafkan, ya sudahlah. Aku akan pergi jauh, kembali ke kampung halaman. Biarlah semua cerita tentang Hendra terkubur di sini, tak usah diingat lagi.

Tak tahan membalas tatapannya yang menusuk, aku menunduk dan pura-pura sibuk dengan es jeruk di depanku.

Tidak, kami tidak di tempat yang kemarin. Ini tempat yang lain lagi. Pujasera yang kemarin telah menjadi hantu bagiku, menakutkan.

“Jadi, Airin benar-benar mengadukan masalahnya ke Mbak Dena?” tanya Diana setelah semua penjelasanku selesai.

Aku mengangkat wajah dan balas memandangnya, lalu mengangguk.

Diana tampak berpikir keras. Matanya menerawang. Beberapa saat dia hanya berdiam diri begitu tanpa aku berani mengusiknya. Sungguh, rasa bersalah ini telah membuatku seperti pecundang di depannya.

“Saya merasa aneh, Mbak Dena ….” gumamnya pelan, seperti tak yakin dengan pikirannya sendiri.

“Aneh bagaimana, Bu?” tanyaku tak paham.

“Airin sangat terbuka pada saya. Apa saja masalah yang dihadapi, dia bisa menceritakannya pada saya. Tapi kali ini, mengapa dia sama sekali tak bicara apa-apa?” tuturnya panjang lebar. “Sebaliknya, dia malah menceritakannya pada ayahnya dan Mbak Dena. Tidakkah ini aneh?”

Aku memandangnya ragu.

“Maksud Ibu?” tanyaku lagi, penasaran.

Diana menggeleng.

“Saya curiga Airin tidak benar-benar jatuh cinta.”

Aku terkejut.

“Jadi, untuk apa dia bilang begitu …?” tanyaku gamang.

Diana menatapku lekat-lekat.

“Justru itu yang saya ingin tahu.”

Duh! Mengapa dia menatapku begitu rupa?


Fitnah Tukang Ojek

“Jo, dipanggil Kang Parmin!”

Aku yang sedang menyeruput es teh di warteg Bu Djum nyaris tersedak. Burhan yang baru datang dan menyampaikan berita itu, dengan santai duduk di depanku. Dia memesan nasi rames lalu ngemil gorengan di meja. Dia memang suka ngemil, perutnya sampai seperti orang hamil lima bulan saja.

“Ada apa lagi, Han?” tanyaku sedikit khawatir. Untung sudah selesai makan, kalau tidak, bisa rusak selera makanku.

Burhan mengangkat bahunya tanda tak paham.

“Sepertinya tadi ibu-ibu yang kemarin itu datang lagi,” jawabnya.

“Waduh,” keluhku tak enak hati.

“Sama anaknya kali ini, Jo,” kata Burhan.

“Baiklah, aku kembali ke pangkalan,” pamitku, lalu segera membayar makanan dan keluar dari warteg.

Perasaanku tak enak. Ada apa lagi ini? Seminggu yang lalu aku dipanggil Kang Parmin, Ketua Paguyuban Ojek pangkalan kami, dan dimarahi habis-habisan, dituduh menarik ongkos yang tidak wajar. Apalagi yang jadi penumpangku saat itu adalah anak sekolah, cuaca sedang hujan lebat pula. Aku dianggap tidak manusiawi, mempergunakan kesempatan dalam kesempitan. Hah! Itu fitnah!


Sungguh, itu fitnah.

Aku masih ingat betul kejadian yang sebenarnya.

Siang itu hujan bagai dicurahkan dari ember raksasa para dewa. Sangat deras dan disertai angin pula. Aku dan beberapa teman sesama tukang ojek pangkalan sedang mangkal di pos. Dalam hujan sederas itu, harapan kami adalah semoga tidak ada orang yang membutuhkan jasa kami.

Bukannya kami tak butuh uang. Namun, hujan yang sangat deras membuat kami harus berhitung lagi. Resiko kehujanan dan kedinginan adalah masuk angin, lalu besoknya libur ngojek. Sayang, bukan? Lebih baik kalau ketika hujan tidak dapat penumpang, tapi besoknya tetap sehat dan bisa ngojek.

Namun, kemudian sebuah truk tentara penuh anak pramuka berhenti di tepi jalan dekat pangkalan. Seorang remaja berpakaian pramuka, menggendong tas punggung yang tampak kelebihan muatan, turun dan berlari-lari menuju pangkalan. Rok panjang sedikit menghambat larinya.

“Pak, minta tolong saya diantar pulang, ya,” katanya sopan kepadaku, yang kebetulan berada paling dekat dengan posisinya berdiri.

Melihatnya basah kuyup begitu, aku jadi tak tega. Dia tampak kedinginan. Aku jadi ingat anakku, yang kira-kira sebaya dengan bocah perempuan ini.

Maka, aku pun setuju untuk mengantarnya pulang. Tidak jauh, hanya di dalam perumahan depan pangkalan ojek ini. Kami memang melayani para penghuni perumahan.

Sesampainya di depan rumah, anak itu turun dan langsung masuk. Aku menunggunya beberapa saat. Karena dia baru pulang kemah, kupikir mungkin kehabisan uang, jadi harus minta dulu pada orang di rumah.

Beberapa lama menunggu, bocah itu tak keluar juga. Baiklah, aku memutuskan untuk kembali ke pangkalan saja, daripada kedinginan terlalu lama. Aku percaya anak itu akan mengantarkan ongkos ojek ke pangkalan keesokan harinya, karena dia anak baik dan dari keluarga baik-baik pula. Aku sudah beberapa kali mengantarnya dan kami sudah saling kenal wajah.

Namun, bocah itu tak muncul juga.

Justru yang terjadi dua hari kemudian adalah, aku dipanggil Ketua Paguyuban.

“Tadi ada ibu-ibu nyari kamu. Ngasih ongkos ojek anaknya. Sepuluh ribu.” Suara Kang Parmin yang datar dan dingin terdengar menakutkan di telingaku.

Aku terkejut. Sepuluh ribu? Itu tiga kali lipat lebih dari ongkos wajar. Dari pangkalan masuk perumahan sangat dekat, ongkosnya hanya tiga ribu.

“Kubilang ongkos ojek nggak segitu. Tapi dia bilang anaknya sendiri yang minta sepuluh ribu buat bayar ojek.” Masih dengan suara datar, Kang Parmin melanjutkan.

Oh, tidak. Bocah itu anak baik-baik, aku tak percaya dia bisa setega itu memfitnahku.

“Kamu keterlaluan, Paijo!” hardik Kang Parmin keras.

Aku menghela napas, menguatkan hati. Selama ini tak seorang pun tukang ojek pangkalan kami berani mendebat Kang Parmin, karena dia memang sudah sangat baik dan bijaksana dalam merangkul dan mengayomi. Usianya pun sudah lebih dari setengah abad, paling tua di antara kami semua.

Namun, kali ini aku terpaksa menyanggahnya.

“Tidak, Kang, aku tidak minta ongkos sebanyak itu …,” suaraku sedikit bergetar.

“Lalu berapa?” sahut Kang Parmin tanpa ampun. “Ini buktinya, ibunya memberikan sepuluh ribu!”

Aku menatap uang sepuluh ribu yang disodorkan Kang Parmin.

“Nih, ambil!”

Aku bergeming. Tidak, aku tidak mau mengambilnya. Ini akan membawa malapetaka.

Aku menggelengkan kepala. “Maaf, Kang, aku tidak mau.”

“Kenapa? Karena ketahuan olehku?” cecar Kang Parmin pedas. “Kau tahu, aku tak bisa menerima perbuatanmu. Dalam kondisi hujan deras, orang butuh pertolongan, bukan pemerasan!”

Aku terkesiap. “Kang, aku tidak ….”

“Kalau kamu tidak melakukannya, buktikan! Selesaikan masalahmu dengan caramu! Aku menunggu.”


Geram, aku pun mendatangi rumah bocah itu. Sayang sekali, si bocah kurang ajar itu belum pulang sekolah, ibunya pun masih kerja. Untunglah ada bapaknya di rumah, jadi aku bisa menyampaikan kekesalanku pada si bapak.

“Oh, begitu, ya?” komentar si bapak di akhir ceritaku. “Saya mohon maaf, anak saya telah membuat masalah jadi rumit begini. Nanti kalau dia pulang, biar saya suruh dia ke pangkalan lagi.”

Aku pun pamit dan kembali ke pangkalan.

Sekarang, si bocah datang, dengan ibunya pula. Apa lagi yang dikatakannya kali ini?

Dengan rasa marah bercampur penasaran, aku menemui Kang Parmin, yang sedang duduk-duduk dipangkalan bersama beberapa teman.

“Hai, Jo, duduk sini!” panggil Kang Parmin melihatku datang.

Aku menurut, duduk di depannya.

“Tadi bocah itu datang sama ibunya,” kata Kang Parmin memulai. Suaranya tenang, tidak menakutkan seperti minggu lalu. Hatiku sedikit lega.

Aku mengangguk, menunggu kelanjutan ceritanya.

“Ternyata benar, kau tidak minta ongkos sebanyak itu. Aku minta maaf sudah menuduhmu yang tidak-tidak,” lanjutnya.

Aku menghembuskan napas lega. Akhirnya!

“Dia sudah menanyai anaknya, kenapa minta sepuluh ribu. Kau tahu apa jawab anaknya?” lanjut Kang Parmin lagi, sekarang malah berteka-teki.

Aku hanya menggelang. Mana aku tahu!

“Bocah itu bilang, ‘Aku sendiri yang pengen ngasih sepuluh ribu, soalnya kasihan bapak ojeknya, kehujanan, kedinginan.’ Begitu,” pungkas Kang Parmin.

Aku menghembuskan napas, betul-betul lega sekarang. Kang Parmin kembali menyodorkan uang sepuluh ribu dan kali ini kuterima dengan senang hati.

Kutimang-timang uang itu di tangan, sambil tersenyum-senyum sendiri.

“Waah, untung betul nasibmu, Jo, dapat penumpang baik hati gitu,” celetuk Burhan, disambut anggukan kepala semua yang ada di situ.

Astaga, cepat sekali dia makan, tahu-tahu sudah ada di sini lagi. Dasar gembul. Atau dia tidak jadi makan karena penasaran juga? Entahlah.

“Uangnya buat beli gorengan aja, Jo, kita makan rame-rame,” usul teman yang lain lagi.

Aku tersenyum.

“Jangan, kurasa aku tidak akan membelanjakan uang ini,” kataku sambil masih menimang-nimang uang di tangan. “Sayang rasanya.”

“Lalu mau kauapakan uang itu?” tanya Kang Parmin, terdengar heran. Teman-teman ikut menggumamkan pertanyaan serupa.

“Mungkin akan kupigura dan pajang saja di dinding rumah,” jawabku santai.

“Gila, buat apa?” celetuk seorang teman lagi.

“Yaah, sebagai kenang-kenangan, bahwa ternyata ada anak yang begitu menghargai jasa tukang ojek.”

“Huuu!” serentak mereka berseru.

Aku tergelak. Puas mengerjai mereka.