Ken Dedes dan Bulan Desember

Pada suatu masa dahulu, tinggallah seorang bocah perempuan kecil bernama Ken Dedes, di sebuah rumah sederhana bersama orang tuanya. Mereka memang keluarga sederhana. Bapak Ken Dedes seorang petani yang hanya memiliki beberapa petak sawah, beberapa ekor kambing dan ayam.

Ken Dedes selalu membantu bapak-ibunya di sawah. Walaupun masih kecil, dia sudah bisa membantu merawat tanaman dan memanen hasilnya. Semua keterampilan itu didapat dari pengamatannya terhadap cara bertani yang dilakukan orang tuanya, ketika Ken Dedes kecil bermain di sawah sementara bapak-ibunya bekerja. Sedangkan untuk tandur, yaitu menanam padi, ia belum diijinkan. Hanya orang dewasalah yang boleh tandur.

Ken Dedes kecil tumbuh menjadi remaja yang cantik. Namun, dia tetap sederhana dan rendah hati. Tetap rajin membantu orang tuanya di sawah. Rajin pula mengurus rumah. Mencuci pakaian di sendhang, menyapu rumah dan halaman, memasak dan membersihkan dapur, adalah kegiatan rutinnya bersama sang ibu. Bahkan dia tak segan membantu bapaknya memberi makan ayam dan mencari rumput untuk memberi makan kambing.

Suatu hari, hujan deras mengguyur desa mereka. Air bagai dicurahkan dari ember raksasa para dewa. Disertai kesiur angin yang menggetarkan jiwa pula.

Ken Dedes dan bapak-ibunya hanya berdiam di rumah. Ken Dedes duduk-duduk bersama bapaknya sambil menikmati pisang dan ketela rebus hangat serta kopi panas untuk mengusir hawa dingin.

Tiba-tiba, terdengar suara ibunya memanggil dari arah kamar tidur.

“Des, Dedes! Tolong ambilkan ember, Ndhuk, cepat!”

Mendengar itu, Ken Dedes dan bapaknya berpandangan. Heran. Untuk apa ember dibawa ke kamar tidur?

“Des, ambilkan ember! Cepat!” teriak ibunya lagi.

Ken Dedes pun beranjak dari duduknya, menuju bilik tempat penampungan air bersih dan ember-ember berada.

“Des, ember!” teriak ibunya sekali lagi.

“Nggih, Mboook, ini Dedes bawakan embernya!” sahut Ken Dedes sambil bergegas membawa ember ke kamar ibunya.

“Des, ember!” teriak ibunya lagi, tak melihat kedatangan Ken Dedes yang sudah sampai di ambang pintu.

Ken Dedes menghela napas. Terlihat ibunya di tempat tidur, sedang menadahi air hujan yang lolos dari hadangan atap rumah. Ya, kamar ibunya ternyata bocor. Wadah yang dipegangnya untuk menadahi air hujan sudah hampir penuh. Ia tak bisa beranjak untuk mengambil ember sendiri, karena kalau ditinggal pergi maka tempat tidur akan basah kuyup.

Sejak itulah, karena terbiasa mendengar kata “Des, ember!” dari ibunya, Ken Dedes menyebut bulan saat sering turun hujan itu dengan nama Desember.

Iklan

Gadis dalam Cermin

Aku menatap gadis di depanku. Menyedihkan sekali dia. Rambut lurus sebahunya kusut tak terurus. Matanya redup dan sembab akibat terlalu banyak menangis. Terlihat warna kehitaman di kantung matanya, seolah dia tak tidur berhari-hari. Bahkan kulit wajahnya pun tak berseri.

Aku menghela napas prihatin. Dia juga. Matanya yang redup membalas tatapanku. Seolah memohon agar aku tidak mencemoohnya, atau menertawakan kebodohannya.

Dia memang bodoh. Syukurlah dia menyadarinya sekarang. Berhari-hari telah dia habiskan waktu hanya untuk menangisi kekasihnya yang tak setia. Berhari-hari dia mengurung diri di kamar sementara lelaki yang dia sebut kekasih telah terbang bebas bersama bidadari barunya.

***

“Halo? Maaf, Sinta, aku tak bisa menjemputmu hari ini. Ada pekerjaan ekstra yang harus kuselesaikan sore ini juga,” kata Deddy siang itu di telepon.

“Oh, baiklah,” jawab Sinta setenang biasanya. “Aku akan pulang sendiri. Semoga pekerjaanmu selesai tepat waktu.”

Telepon itu berulang keesokan harinya. Juga lusanya. Lalu hari berikutnya dan berikutnya lagi. Bodohnya, Sinta selalu percaya. Dengan lapang dada dia pulang sendiri dan tak lupa mendoakan kesuksesan untuk kekasihnya.

Sinta bahkan bangga pada Deddy, yang diyakininya begitu sungguh-sungguh bekerja ekstra demi masa depan mereka berdua. Masa depan yang mereka rencanakan bersama.

Hingga suatu sore Sinta mampir ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa kebutuhan. Di tempat itu dia mendapati Deddy, yang siang harinya pamit untuk kerja lembur, ternyata tengah mendampingi seorang wanita berbelanja juga. Wanita muda yang begitu mesra dan manja padanya.

Sinta nyaris tak mempercayai penglihatannya saat itu. Dia kira itu hanya orang lain yang kebetulan mirip Deddy. Bukankah beberapa orang memang terlihat mirip walau tak punya ikatan persaudaraan?

Tapi justru Deddy sendirilah yang meyakinkannya. Deddy terkejut mendapatinya berdiri mematung tak jauh dari tempat wanitanya memilih-milih barang di rak display.

“Sinta…?” bisik Deddy seolah tak percaya pada matanya sendiri.

Lalu seperti adegan di film-film, Sinta membalikkan tubuh, berlari menjauh. Namun, tidak seperti adegan di film-film, Deddy tidak mengejarnya sama sekali.

Sinta berlari sendiri membawa luka hati.

***

Tak perlu banyak kata, Sinta memutuskan untuk melepas Deddy. Meskipun hatinya tak mudah merelakan. Terbukti dari tidur malamnya yang tak lagi nyenyak. Hari-harinya tak lagi penuh gairah. Seusai jam kerja, dia mengurung diri di kamar, sendiri berurai air mata.

Hingga hari ini, kami duduk berhadapan di sini, di kamar ini.

Gadis di depanku masih terlihat sendu. Beberapa kali menghela napas bersamaan denganku. Lewat tatapan mata, tanpa kata, kami saling bicara.

Dia mengadukan luka hatinya. Aku memberinya semangat. Dia mempertanyakan kemampuannya mengikhlaskan yang telah pergi. Aku meyakinkannya, akan ada pengganti yang lebih baik. Dia bertanya apakah ini hukuman Tuhan karena dia telah melanggar larangan-Nya, berkasih-kasihan sebelum ada ikatan yang sah. Aku mengajaknya kembali ke jalan yang benar.

Dia menghela napas lagi. Lagi-lagi bersamaan denganku. Lalu kami sama-sama tersenyum. Sepakat untuk memperbaiki diri.

Lalu aku bangkit dari depan cermin rias yang sedari tadi kutatap, menuju kamar mandi untuk bebersih diri. Aku akan bersiap untuk memulai hari ini dengan hati yang baru.

***

Perhatikan 5 Hal Ini Saat Menjenguk Orang Sakit

Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial, begitu yang pernah saya dengar waktu masih sekolah dulu.

Saya setuju.

Sebagai makhluk sosial, kita tentu berinteraksi dengan orang-orang di sekitar. Salah satu bentuknya adalah menjenguk saudara, tetangga atau teman yang sedang sakit.

Apa sajakah yang harus kita lakukan saat menjenguk orang sakit? Apa pula yang tidak boleh? Jangan sampai kita berkata atau berbuat sesuatu yang justru akan membuat kita terlihat tidak peka.

Berikut ini 5 hal yang perlu kita perhatikan ketika menjenguk orang sakit.

1. Mendoakan Kesembuhan

Bagi si sakit dan keluarga, doa kita untuk kesembuhannya sangatlah penting. Maka sebelum pamit pulang, doakanlah si sakit agar segera sembuh. Kita bisa berdoa dalam hati saja ataupun mengucapkannya dengan suara yang jelas.

Dulu saat menunggui anak di rumah sakit, saya paling terharu ketika mendengar orang-orang mendoakan kesembuhannya. Saya selalu berkaca-kaca bahkan tak jarang hingga menitikkan air mata, saking terharunya.

Bagi saya, doa adalah bukti bahwa mereka menyayangi kami.

2. Membesarkan Hati Si Sakit dan Keluarganya

Dalam kondisi sakit, apa lagi bila sakitnya tergolong berat, orang butuh dukungan yang membesarkan hatinya. Ucapkan kata-kata yang memberi sugesti positif dan memberi semangat untuk terus berjuang hingga sembuh.

Saat suami sakit dulu, teman-teman banyak memberikan sugesti positif pada saya, seperti, “Ini ladang amalmu, semoga Allah memberikan pahala yang banyak.”

Kepada suami, mereka mengatakan, “Semoga sakit ini menjadi penggugur dosamu.”

Saya dan suami pun menjalani semuanya dengan besar hati.

3. Tidak Menakut-Nakuti

Sakit adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Jangan menambahinya dengan kata-kata yang berkesan menakut-nakuti, seperti, “Si Fulan juga sakit seperti ini, dokter bilang tidak bisa disembuhkan.”

Daripada menakut-nakuti, lebih baik kita diam dan tidak mengomentari.

Saya ingat, dulu saat masih mengusahakan kesembuhan mata suami, seorang kerabat yang bekerja di rumah sakit pernah hendak mengatakan sesuatu tapi tak jadi. Akhirnya dia berkata, “Sudahlah, ikuti kata dokter saja. Saya nggak mau kamu jadi berkecil hati.”

Walaupun akhirnya suami benar-benar menjadi tunanetra, saya tetap bersyukur karena selama ini tetap memiliki impian dan harapan, tidak berkecil hati apa lagi berputus asa.

4. Tidak Sok Tahu

Orang sakit tentu mengharapkan saran yang bisa membantunya lekas sembuh. Namun, jangan sampai kita berlagak sok tahu dengan mengatakan harus begini harus begitu, jangan begini jangan begitu.

Saya pernah kecewa ketika mengikuti saran seseorang yang ternyata tidak terbukti benar, padahal sudah menghabiskan banyak tenaga, waktu dan biaya. Syukurlah waktu itu saya tetap berpikir positif dengan mengatakan pada diri sendiri, bahwa semua itu bagian dari upaya penyembuhan.

5. Membantu Secara Finansial

Orang sakit tentu membutuhkan biaya berobat. Maka sebaiknya kita membantu secara finansial semampu kita.

Dulu, operasi mata suami dan perawatan selanjutnya membutuhkan dana yang besar. Saya terharu dan bersyukur ketika saudara, teman dan sahabat membantu kami hingga tercukupilah kebutuhan berobat itu. Semoga Allah membalas mereka semua dengan kebaikan yang banyak.

Itulah hal-hal yang perlu kita perhatikan saat menjenguk orang sakit.

Semoga kita semua dikaruniai kesehatan yang prima oleh Allah Yang Mahakuasa.

Bagi yang Tinggal Berjauhan, Inilah 5 Alasan Perlunya Mengunjungi Orang Tua

Halo, kawan. Kalian yang tinggal jauh dari kampung halaman, sudahkah mengunjungi orang tua? Atau paling tidak, menanyakan kabar mereka? Bagaimana kondisinya, sehat atau sakitkah? Kalau sakit, sudahkah berobat, dan siapa yang merawat? Kalau sehat, tidak kesepiankah? Adakah teman mengobrol sekedar berbagi rasa?

Sesibuk apa pun kita, jadwalkan waktu untuk mengunjungi orang tua. Orang tua ibarat pintu kita menuju surga. Jangan sia-siakan kesempatan untuk berbakti pada mereka, atau kita akan menyesal nantinya.

Berdasarkan pengalaman pribadi, inilah beberapa alasan mengapa kita harus melakukannya.

1. Meminta Restu

Apa pun aktivitas yang kita lakukan, restu orang tua berperan penting dalam melancarkannya. Ketika restu sudah kita dapatkan, maka langkah kita untuk beraktivitas akan semakin ringan dan mudah. Dengan begitu, aktivitas kita bisa berjalan lancar dan sukses.

Saya pernah merasakan betapa beratnya beban hidup ketika harus mengambil alih tugas mencari nafkah, karena suami tiba-tiba menjadi tunanetra. Syukurlah, dengan restu orang tua dan tentu saja ijin Allah, beberapa waktu kemudian saya menjadi PNS.

2. Mendapatkan Nasihat

Sebagai manusia biasa, tentu kita pernah mendapat masalah. Kemudian merasa terbebani dengan masalah itu. Ada baiknya saat hati terasa berat karena masalah yang dihadapi, kita mengunjungi orang tua untuk mendapatkan nasihat. Nasihat orang tua akan mencerahkan dan meringankan hati kita lagi.

Nasihat terakhir yang saya dapat dari Bapak adalah, agar selalu taat dan berbakti pada suami. Nasihat yang indah, mengingat kondisi psikologis suami sedang labil. Saat itu suami sedang tidak mampu menafkahi keluarga karena baru saja menjadi tunanetra.

Kalau waktu itu tidak pulang kampung, saya tidak akan mendapatkan nasihat indah itu dari Bapak, karena itulah hari terakhirnya di dunia. Saudara-saudara saya pulang pun hanya menemui jasad Bapak yang sudah terbungkus kain kafan.

3. Menyegarkan Kembali

Kadangkala kita merasa jenuh dan bosan dengan pekerjaan yang seakan tak ada habisnya. Lalu kita mulai bekerja dengan setengah hati atau bahkan asal-asalan. Akibatnya, hasil yang kita capai pun tidak sesuai harapan. Kalau sudah begitu, kita juga yang rugi. Maka ada baiknya kita menyegarkan kembali hati dan pikiran sejenak dengan melakukan aktivitas lain, seperti mengunjungi orang tua.

Jujur, saya tidak bisa sering-sering berkunjung karena jauh. Perlu waktu dan dana yang cukup. Namun, setiap kali berkunjung, saya merasakan hati dan pikiran kembali segar.

4. Memantau Kesehatan

Kita tentu menginginkan orang tua selalu dalam kondisi sehat. Namun tidak semua orang tua mendapat anugerah kesehatan yang prima. Beberapa orang tua mempunyai masalah dengan kesehatannya, mulai dari keluhan ringan sampai penyakit berat. Maka, sebagai anak,  kita perlu memantau kesehatan orang tua dan menyempatkan diri berkunjung untuk memastikan mereka baik-baik saja. Kalau kita tahu apa yang menjadi keluhan orang tua, kita bisa membawakan mereka makanan atau minuman yang bisa menunjang kesehatan.

Saya bersyukur, Ibu tinggal bersama adik bungsu yang menjadi perawat. Dengan demikian, sekecil apa pun keluhan Ibu, segera bisa tertangani dengan baik. Kadang terpikir juga, bagaimana kalau adik saya bukan perawat? Tetap akan terjaga sebaik itukah kesehatan Ibu?

5. Memenuhi Kewajiban

Bersyukurlah kalau di masa tuanya orang tua kita bisa memenuhi sendiri kebutuhan dasarnya. Namun kenyataannya tidak semua orang tua bisa begitu. Maka sudah menjadi kewajiban kita sebagai anak untuk memenuhi kebutuhan dasar orang tua, semampu kita.

Apakah kita perlu bertanya apa yang mereka butuhkan? Tidak selalu. Kebanyakan orang tua tidak pernah meminta pada anaknya. Mereka merasa tidak patut dan takut menjadi beban. Maka kita sebagai anaklah yang harus peka terhadap kebutuhan mereka.

Saya pernah berjualan kosmetik, maka saat pulang kampung saya bawakan pelembab untuk Ibu. Saat berjualan makanan kesehatan, saya bawakan juga, meskipun Ibu tak pernah meminta.

Itulah beberapa alasan mengapa kita perlu secara berkala mengunjungi orang tua. Tentu saja disesuaikan dengan situasi dan kondisi juga. Yang tak kalah penting adalah, jaga selalu komunikasi dengan orang tua walaupun hanya lewat telepon atau SMS, kalau memang kondisi tidak memungkinkan kita sering berkunjung.

Jangan berpikir bahwa untuk menyenangkan orang tua, kita harus membawa oleh-oleh yang banyak, sehingga malah membebani diri sendiri. Bahkan terkadang, kedatangan kita saja sudah sangat menyenangkan bagi mereka.

Jadi, sudahkah mengunjungi orang tua, kawan?

Ulang Tahun Yasmin

Hari ini, Minggu 16 Desember 2018, keponakan saya tercinta berulang tahun yang ke sepuluh. Yasmin, si gadis kecil itu, sejak jauh-jauh hari sudah chatting-an dengan anak-anak saya, meminta agar mereka datang di hari ulang tahunnya.

Sejujurnya, saya dibesarkan dalam keluarga sederhana yang tidak menerapkan tradisi ulang tahun. Jangankan merayakan, ingat hari ulang tahun saja kadang tidak. Maka saya tumbuh menjadi pribadi yang tidak mengagungkan tradisi ulang tahun. 

Namun, kali ini sungguh berbeda. Begitu anak saya mengatakan bahwa Yasmin meminta mereka hadir di hari ulang tahunnya, saya segera mengiyakan. Tanpa tawar-menawar lagi. 

Mengapa? Apakah saya sudah terjangkit virus ulang tahun juga agar kekinian? Tidak, Ki Sanak. Kalau yang minta kami datang di ulang tahunnya bukan Yasmin, keponakan tercinta ini, paling-paling saya hanya akan tertawa. 

Namun, Yasmin berbeda. Dia bocah kecil yang kehilangan kasih sayang ayahnya sejak beberapa tahun lalu. Maka demi kebahagiaan dan kegembiraannya di hari ulang tahun, kami menyempatkan diri hadir. Agar dia tahu bahwa masih banyak orang yang sayang dan peduli padanya. Agar dia tidak terlalu menyesali dan meratapi kepergian ayahnya. 

Yang pergi, biarkan berlalu. 

Yasmin kecil tetap punya harapan, tetap punya masa depan. Ada Bunda dan Eyang yang rela berkorban apa saja demi kebahagiaannya. Ada kami, sanak saudara yang siap mendukung perjuangan mereka meraih masa depan. 

Maka, ulang tahun yang satu ini memang istimewa. Ini adalah salah satu moment dukungan kami pada si kecil Yasmin, agar tetap berbesar hati dan mimpi. Bagaimanapun, kami ingin turut mengobati hatinya yang luka akibat kepergian sang ayah. 

Selamat ulang tahun, Yasmin sayang. Doa kami, semoga Yasmin menjadi anak sholihah penyejuk hati Bunda. 




Barakallah Yasmin

Membaca Dulu Menulis Kemudian

Saya suka membaca sejak masih kecil. Majalah dan novel ibu, koran bapak, komik kakak, semua saya baca selagi letaknya masih dalam jangkauan. Syukurlah pada novel, majalah, koran atau komik itu tidak ada peringatan, “Jauhkan dari jangkauan anak-anak”, sehingga saya bisa menjangkau semuanya dengan mudah. 

Apakah saya paham semua hal yang saya baca? Tentu saja tidak, Ki Sanak.  Saya masih kelas satu SD sedangkan koran bapak memuat berita-berita politik. Novel ibu berkisah tentang petualangan entah apa. Komik kakak masih lumayan, karena hanya komik silat yang mudah dipahami. 

Meskipun begitu, saya tetap membaca. Bahkan kalau membeli jajanan yang dibungkus potongan koran, saya baca dulu bungkus itu sebelum memakan jajanannya. Hebat ya, saya, ehh … 

Melihat kesukaan saya membaca, ibu mulai membelikan majalah yang sesuai untuk saya, seperti Bobo, Kawanku, dan Si Kuncung. Betapa senangnya saya, meskipun kebanyakan majalah itu dibeli di pasar loak.

Setelah itu, saya bisa memilih bacaan sendiri. Kelas tiga SD, favorit saya adalah Lima Sekawan karya Enyd Blyton. Masuk SMP, favorit saya novel silat Kho Ping Hoo dan novel horor Abdullah Harahap. Masuk SMA, favorit saya novel-novel Mira W, Marga T dan Sidney Sheldon. Banyak sekali, ya? Sayangnya, semua novel itu koleksi perpustakaan, baik perpustakaan sekolah maupun umum. 

Semua bacaan itu, tanpa disadari, telah mempengaruhi pola pikir saya. Terutama Kho Ping Hoo yang penuh kearifan tentang cara pandang terhadap manusia dan sifat-sifatnya. 

Dengan pengalaman itu, saya pun berhati-hati jika ingin menulis. Saya sadar, bisa jadi tulisan saya pun akan mempengaruhi pembacanya. Ketika itu terjadi, saya ingin pengaruh baiklah yang didapat pembaca, hingga bisa menjadi amal jariyah untuk saya. 

Sayangnya, sampai hari ini, saya masih bingung mau menulis apa.